Minggu, 05 Juni 2016

HUBUNGAN ILMU TASAWUF DENGAN ILMU LAINYA

A.  Pengertian Tasawuf

         Tasawuf merupakan salah satu ilmu yang tentu saja berhubungan dengan ilmu lainnya. Keterkaitan ini kadang-kadang dilihat dari persamaan objek, persamaan sudut pandang, persamaan sumber dan lain sebagainya. Terkadang satu ilmu menjadi pelengkap ilmu yang lain dan bisa juga suatu ilmu lebih memberikan warna baru untuk ilmu yang lain, sehingga bila digabungkan maka akan memberikan pemahaman yang lain bagi materi ilmu yang bersangkutan.

B.  Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Kalam

Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam tuhan yang dibahas secara mendalam dengan mengemukakan argumentasi, baik secara aqli maupun naqli.[1]
 Seseorang tidak dinamakan beragama kalau tidak bertuhan. Tauhid (mengesakan Allah) adalah masalah yang membedakan antara kafir dengan mukmin. Seseorang tidak dinamakan mukmin kalau dia mengingkari adanya Allah SWT. Orang yang mengingkari adanya Allah disebut kafir. Tetapi bila ia mengakui adanya Allah tetapi ia sekutukan dengan sesuatu yang lain, orang yang demikian itu dinamakan musyrik.[2]

Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaan kalam. Penghayatan yang mendalam melalui hati terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu tasawuf lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional dan muatan naqliah. Jika tidak di imbangi oleh kesadaran rohaniah ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qalbiyah(hati).[3] Tasawuf islam tidak akan ada kalau tidak ada tauhid, tegasnya tiada guna pembersihan hati kalau tidak beriman. Tasawuf islam yang sebenarnya adalah hasil dari aqidah yang murni dan kuat yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-nya. Perlu diingat bahwa lapangan tasawuf itu adalah hati.[4]

    Beberapa hal yang dapat menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam menurut Tiswani dalam bukunya Buku Daras Akhlak Tasawuf  menyatakan :
1.    Dilihat dari materi, ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah sedangkan ilmu tasawuf dapat menyentuh rasa rohaniah seorang hamba.
2.    Dalam ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan defenisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara itu pada ilmu tasawuf di temukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, serta upaya untuk menyelamatkan diri dari kemunafikan.
3.    Selain itu, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan kalam.[5]

C.  Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Filsafat

Kajian-kajian tentang jiwa dalam pendekatan kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia islam. Kajian-kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan dalam tasawuf menurut sebagian ahli tasawuf jiwa adalah roh setelah bersatu dengan jasad. Penyatuan roh dan jasad melahirkan pengaruh yang ditimbulkan oleh jasad terhadap roh. Pengaruh-pengaruh ini akhirnya memunculkan kebutuhan-kebutuhan jasad yang dibangun roh.[6]

Ilmu tasawuf sangat erat kaitannya dengan ilmu filsafat menurut Tiswani dalam bukunyaBuku Daras Akhlak Tasawuf menyatakan :
a.     Ilmu filsafat memberikan penjelasan terhadap terminologi-terminologi yang digunakan dalam tasawuf.
b.    Ilmu tasawuf dan ilmu filsafat sama-sama mempunyai tujuan yakni mencari kebenaran sejati atau kebenaran tertinggi.
c.     Ilmu filsafat lebih pada teori, sedangkan ilmu tasawuf  pada aplikasi.
d.    Tasawuf landasannya berpijak dan bertolak dari perasaan sedangkan filsafat landasannya berpijak pada rasio dan kepandaian menggunakan akal pikiran.
e.     Filsafat turut mempengaruhi materi-materi dalam tasawuf.[7]

D.  Hubungan Ilmu Tasawuf dengan iImu Fiqih

Ilmu tasawuf dan ilmu fiqih adalah dua disiplin ilmu yang saling melengkapi. Setiap orang harus menempuh keduanya, dengan catatan bahwa kebutuhan perseorangan terhadap kedua disiplin ilmu sangat beragam sesuai dengan kadar kualitas ilmunya. Dari sini dapat dipahami bahwa ilmu fiqih, yang terkesan sangat formalistic-lahiriah, menjadi sangat kering atau kaku dan tidak mempunyai makna bagi penghambaan seseorang jika tidak diisi dengan muatan kesadaran rohaniah yang dimiliki oleh tasawuf. Begitu juga sebaliknya, tasawuf akan terhindar dari sikap-sikap merasa suci sehingga tidak perlu lagi memperhatikan kesucian lahir yag diatur dalam fiqih.[8]

Keterkaitan antara ilmu fiqih dengan ilmu tasawuf :
1.    Ilmu tasawuf mampu menumbuhkan kesiapan manusia untuk melaksanakan hukum-hukum fiqih.
2.    Ilmu fiqih merupakan jembatan yang harus dilalui oleh seseorang yang ingin mendalami ajaran tasawuf.
3.    Tasawuf dan fiqih merupakan dua disiplin ilmu yang saling menyempurnakan.[9]

E.   Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Psikologi
 Tasawuf selalu membicarakan persoalan yang berkaisar pada jiwa manusia. Hanya saja jiwa yang dimaksud adalah jiwa muslim, yang tentunya tidak lepas dari sentuhan-sentuhan keislaman. Dari sinilah tasawuf kelihatan identik dengan unsur kejiwaan manusia muslim. Mengingat adanya hubungan dan relevansi yang sangat erat antara spiritualitas (tasawuf) dan ilmu jiwa, terutama ilmu kesehatan mental, kajian tasawuf tidak dapat terlepas dari kajian tantang kejiwaan manusia itu sendiri. Yang dikehendaki dari uraian tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam Tasawuf tersebut adalah terciptanya keserasian antara ke-2 nya. Pembahasan te   ntang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi dalam rangka melihat sejauh mana hubungan perilaku yang dipraktikan manusia dengan dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari sini, baru muncul kategori-kategori perbuatan manusia, apakah dkategorikan sebagai perbuatan jelek atau perbuatan baik. Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang baik, ia disebut orang yang berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang  ditampilkannya jelek, ia disebut sebagai orang yang berakhlak jelek. Dalalm pandangan kaum sufi, akhlak dan sifat seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya
Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan. Dengan demikian tujuan yang dikehendaki dari uraian tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam tasawuf adalah terciptanya keserasian antara keduanya.[10]

Keterkaitan antara ilmu psikologi dengan ilmu tasawuf :
1.    Ilmu tasawuf dalam pembahasannya menekankan unsur jiwa atau bathin manusia, begitu juga ilmu psikologi.
2.    Ilmu psikologi membahas masalah kesehatan mental, dan hal-hal apa saja yang membuat kerusakan pada mental sedangkan ilmu tasawuf memberikan langkah-langkah praktis agar orang senantiasa dapat memiliki mental yang sehat dan bathin yang suci.
3.    Ilmu tasawuf memberikan obat bagi penyakit-penyakit mental manusia. Mental menjadi sakit bila manusia tidak tenang bathinnya dan jauh dari allah. Ketidaktenangan ini membuat manusia menjadi sakit mental, dan akhirnya akan bermuara pada prilaku yang tidak normal dan selalu melanggar norma-norma akhlak yang berlaku. [11]

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa tasawuf dan psikologi memiliki hubungan yang erat sekali, karena melalui jiwa yang benar orang bisa mendapatkan hubungan yang baik dengan penciptaan-Nya, seperti yang secara luas oleh Al-Ghazali melalui tahapan tasawuf takhalli, tahlli dan tajalli. Usaha mencapai tahapan ini melalui suatu proses pendidikan dari segi kejiwaan dengan arti takhiliyah al-nafs dan tahliyan al-nafs. Takhilliyah al-nafs, usaha penyesuian diri dengan melalui pengosongan diri dengan sifat-sifat tercela, dan tahliyah al-nafs penghiasan diri dengan sifat dan akhlak terpuji.[12]


F.   Hubungan ilmu Tasawuf dengan ilmu Kesehatan Mental

    Semua praktek dan amalan-amalan dalam ilmu tasawuf merupakan latihan rohani dan latihan jiwa unutk melakukan pendekatan spiritual kearah yang lebih baik dan lebih sempurna. Dengan demikian, amalan-amalan tasawuf tersebut adalah bertujuan unutk mnecari ketenangan  jiwa dan kebersihan hai agar lebih kokoh dalam menempuh liku-liku problem hidup yang beraneka ragam serta unutk mencari hakekat kebenaran yang dapat mengatur segala-galanya dengan baik.

    Manusia sebagai makhluk alah memiliki jasmani dan rohani. Salah satu unsure manusia adalah hati (qalbu) disamping hawa nafsu. Karena itu penyakit yang dapat menimpa manusia ada dua macam yaitu penyakit jasmani dan penyakit rohani atau jiwa atau qalbu. Seperti yang dijelaskna dalam al-quran surat albaqarah ayat 10 :
Artinya : dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

    Dengan tasawuf manusia akan dapat menghidarkan diri dari prilaku kejiwaan (psikologis) berupa prilkau memperturutkan hawa nafsu, seperti dengki,sombong, takabbur, serakah, resah, gelisah, khawatir, stress dan beberapa penyait jiwa lainnya. Tasawuf yang berusaha unutk melakukan kontak bathin dengan tuhan bahkan berusaha untuk berada di hadira tuhan, sudah pasti akan memberikan ketentraman bathin dan kemerdekaan jiwa dari segala pengaruh penyakit hati.
   
    Dengan demikian, antara tasawuf dengna ilmu jiwa tau ilmu kesehatan mental memiliki hubungan yang sangat erat karena salah satu tujuan praktis dari ilmu kesehatan mental adalah agar manusia memiliki ketenangan hati, ketentraman jiwa dan terhindar dari penyakit-penyakit psikologis sperti dengki, sombong, serakah, takbbur dan sebagainya.[13]
BAB III
PENUTUP

A.               KESIMPULAN
1.            Pengertian Tasawuf

         Tasawuf merupakan salah satu ilmu yang tentu saja berhubungan dengan ilmu lainnya. Terkadang satu ilmu menjadi pelengkap ilmu yang lain dan bisa juga suatu ilmu lebih memberikan warna baru untuk ilmu yang lain, sehingga bila digabungkan maka akan memberikan pemahaman yang lain bagi materi ilmu yang bersangkutan.

2.     Hubungan ilmu Tasawuf dengan ilmu Kalam

    Beberapa hal yang dapat menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam menurut Tiswani dalam bukunya Buku Daras Akhlak Tasawuf  menyatakan :
a.     Dilihat dari materi, ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah sedangkan ilmu tasawuf dapat menyentuh rasa rohaniah seorang hamba.
b.    Dalam ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan defenisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara itu pada ilmu tasawuf di temukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, serta upaya untuk menyelamatkan diri dari kemunafikan.
c.     Selain itu, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan kalam.

3.    Hubungan ilmu Tasawuf dengan ilmu Filsafat

Ilmu tasawuf sangat erat kaitannya dengan ilmu filsafat menurut Tiswani dalam bukunyaBuku Daras Akhlak Tasawuf  menyatakan :
a.     Ilmu filsafat memberikan penjelasan terhadap terminologi-terminologi yang digunakan dalam tasawuf.
b.    Ilmu tasawuf dan ilmu filsafat sama-sama mempunyai tujuan yakni mencari kebenaran sejati atau kebenaran tertinggi.
c.     Ilmu filsafat lebih pada teori, sedangkan ilmu tasawuf  pada aplikasi.
d.    Tasawuf landasannya berpijak dan bertolak dari perasaan sedangkan filsafat landasannya berpijak pada rasio dan kepandaian menggunakan akal pikiran.
e.     Filsafat turut mempengaruhi materi-materi dalam tasawuf.

4.    Hubungan ilmu Tasawuf dengan ilmu Fiqih

Keterkaitan antara ilmu fiqih dengan ilmu tasawuf :
a.     Ilmu tasawuf mampu menumbuhkan kesiapan manusia untuk melaksanakan hukum-hukum fiqih.
b.    Ilmu fiqih merupakan jembatan yang harus dilalui oleh seseorang yang ingin mendalami ajaran tasawuf.
c.     Tasawuf dan fiqih merupakan dua disiplin ilmu yang saling menyempurnakan.

5.    Hubungan ilmu Tasawuf dengan ilmu Psikologi
Keterkaitan antara ilmu psikologi dengan ilmu tasawuf :
a.     Ilmu tasawuf dalam pembahasannya menekankan unsur jiwa atau bathin manusia, begitu juga ilmu psikologi.
b.    Ilmu psikologi membahas masalah kesehatan mental, dan hal-hal apa saja yang membuat kerusakan pada mental sedangkan ilmu tasawuf memberikan langkah-langkah praktis agar orang senantiasa dapat memiliki mental yang sehat dan bathin yang suci.
c.     Ilmu tasawuf memberikan obat bagi penyakit-penyakit mental manusia. Mental menjadi sakit bila manusia tidak tenang bathinnya dan jauh dari allah. Ketidaktenangan ini membuat manusia menjadi sakit mental, dan akhirnya akan bermuara pada prilaku yang tidak normal dan selalu melanggar norma-norma akhlak yang berlaku.

6.    Hubungan ilmu Tasawuf dengan ilmu Kesehatan Mental

    Dengan tasawuf manusia akan dapat menghidarkan diri dari prilaku kejiwaan (psikologis) berupa prilaku memperturutkan hawa nafsu, seperti dengki,sombong, takabbur, serakah, resah, gelisah, khawatir, stress dan beberapa penyait jiwa lainnya. Tasawuf yang berusaha unutk melakukan kontak bathin dengan tuhan bahkan berusaha untuk berada di hadira tuhan, sudah pasti akan memberikan ketentraman bathin dan kemerdekaan jiwa dari segala pengaruh penyakit hati.

DAFTAR PUSTAKA

Duski Samad, 2007, Lebih Dengan Tasawuf , padang : IAIN press 
Hadis purba, dkk., 2015, Akhlak tasawuf (membangun karakter islam), Medan : perdana publishing
Tiswani,2007, akhlak tasawuf, Jakarta : Bina Pratama.
Yunasril ali, 1987, pengantar ilmu tasawuf, Jakarta : Pedoman ilmu jaya.

[1] Tiswani,akhlak tasawuf, Bina Pratama, Jakarta,2007,hlm. 94.
[2] Yunasril ali,pengantar ilmu tasawuf,Pedoman ilmu jaya,Jakarta,1987,hlm. 35.
[3]  Rosihan Anwar, ilmu tasawuf, pustaka setia, bandung,2007,hlm. 88
[4] Yunasril Ali,op. cit.,hlm. 35-36
[5] Tiswani,op. cit.,hlm. 95-96
[6] Rosihan Anwar,op. cit.,hlm. 92
[7] Tiswani,op. cit.,hlm. 97.
[8] Rosihan Anwar,op. cit.,hlm. 91-92.
[9] Tiswani,op. cit.,hlm. 98-99.
[10] Rosihan Anwar,op. cit.,hlm. 93.
[11] Tiswani,op. cit.,,hlm. 101.
[12] 2PROF .DR.H. Duski Samad, M.Ag, Lebih Dengan Tasawuf (padang, IAIN press 2007)hlm.86
[13] Hadis purba, dkk. Akhlak tasawuf (membangun karakter islam), perdana publishing, medan, hal 147-149

Tidak ada komentar:

Posting Komentar