A. Pengertian Tasawuf
Tasawuf
merupakan salah satu ilmu yang tentu saja berhubungan dengan ilmu lainnya.
Keterkaitan ini kadang-kadang dilihat dari persamaan objek, persamaan sudut
pandang, persamaan sumber dan lain sebagainya. Terkadang satu ilmu menjadi
pelengkap ilmu yang lain dan bisa juga suatu ilmu lebih memberikan warna baru
untuk ilmu yang lain, sehingga bila digabungkan maka akan memberikan pemahaman
yang lain bagi materi ilmu yang bersangkutan.
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang
banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam tuhan yang
dibahas secara mendalam dengan mengemukakan argumentasi, baik secara aqli
maupun naqli.[1]
Seseorang tidak dinamakan beragama kalau tidak bertuhan. Tauhid (mengesakan Allah) adalah masalah yang membedakan antara kafir dengan mukmin. Seseorang tidak dinamakan mukmin kalau dia mengingkari adanya Allah SWT. Orang yang mengingkari adanya Allah disebut kafir. Tetapi bila ia mengakui adanya Allah tetapi ia sekutukan dengan sesuatu yang lain, orang yang demikian itu dinamakan musyrik.[2]
Seseorang tidak dinamakan beragama kalau tidak bertuhan. Tauhid (mengesakan Allah) adalah masalah yang membedakan antara kafir dengan mukmin. Seseorang tidak dinamakan mukmin kalau dia mengingkari adanya Allah SWT. Orang yang mengingkari adanya Allah disebut kafir. Tetapi bila ia mengakui adanya Allah tetapi ia sekutukan dengan sesuatu yang lain, orang yang demikian itu dinamakan musyrik.[2]
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf
berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaan kalam. Penghayatan
yang mendalam melalui hati terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu
tasawuf lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Sebagaimana
disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia islam cenderung menjadi sebuah ilmu
yang mengandung muatan rasional dan muatan naqliah. Jika tidak di imbangi oleh
kesadaran rohaniah ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih liberal dan bebas.
Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam
tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka yang kering dari kesadaran
penghayatan atau sentuhan secara qalbiyah(hati).[3] Tasawuf
islam tidak akan ada kalau tidak ada tauhid, tegasnya tiada guna pembersihan
hati kalau tidak beriman. Tasawuf islam yang sebenarnya adalah hasil dari
aqidah yang murni dan kuat yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-nya.
Perlu diingat bahwa lapangan tasawuf itu adalah hati.[4]
Beberapa hal yang dapat
menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam
menurut Tiswani dalam bukunya Buku Daras Akhlak Tasawuf menyatakan :
1. Dilihat dari materi,
ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah sedangkan ilmu tasawuf dapat
menyentuh rasa rohaniah seorang hamba.
2. Dalam ilmu kalam
ditemukan pembahasan iman dan defenisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta
kemunafikan dan batasannya. Sementara itu pada ilmu tasawuf di temukan
pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman,
serta upaya untuk menyelamatkan diri dari kemunafikan.
3. Selain itu, ilmu
tasawuf berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan kalam.[5]
C. Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu
Filsafat
Kajian-kajian tentang jiwa dalam pendekatan
kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga
bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia islam. Kajian-kajian kefilsafatan
tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan dalam tasawuf menurut
sebagian ahli tasawuf jiwa adalah roh setelah bersatu dengan jasad. Penyatuan
roh dan jasad melahirkan pengaruh yang ditimbulkan oleh jasad terhadap roh.
Pengaruh-pengaruh ini akhirnya memunculkan kebutuhan-kebutuhan jasad yang
dibangun roh.[6]
Ilmu tasawuf sangat erat kaitannya dengan ilmu
filsafat menurut Tiswani dalam bukunyaBuku Daras Akhlak Tasawuf menyatakan
:
a. Ilmu filsafat
memberikan penjelasan terhadap terminologi-terminologi yang digunakan dalam
tasawuf.
b. Ilmu tasawuf dan ilmu
filsafat sama-sama mempunyai tujuan yakni mencari kebenaran sejati atau
kebenaran tertinggi.
c. Ilmu filsafat
lebih pada teori, sedangkan ilmu tasawuf pada aplikasi.
d. Tasawuf landasannya
berpijak dan bertolak dari perasaan sedangkan filsafat landasannya berpijak
pada rasio dan kepandaian menggunakan akal pikiran.
e. Filsafat turut
mempengaruhi materi-materi dalam tasawuf.[7]
D. Hubungan Ilmu Tasawuf dengan iImu
Fiqih
Ilmu tasawuf dan ilmu fiqih adalah dua disiplin
ilmu yang saling melengkapi. Setiap orang harus menempuh keduanya, dengan
catatan bahwa kebutuhan perseorangan terhadap kedua disiplin ilmu sangat
beragam sesuai dengan kadar kualitas ilmunya. Dari sini dapat dipahami bahwa
ilmu fiqih, yang terkesan sangat formalistic-lahiriah, menjadi sangat kering
atau kaku dan tidak mempunyai makna bagi penghambaan seseorang jika tidak diisi
dengan muatan kesadaran rohaniah yang dimiliki oleh tasawuf. Begitu juga
sebaliknya, tasawuf akan terhindar dari sikap-sikap merasa suci sehingga tidak
perlu lagi memperhatikan kesucian lahir yag diatur dalam fiqih.[8]
Keterkaitan antara ilmu fiqih dengan ilmu tasawuf
:
1. Ilmu tasawuf mampu
menumbuhkan kesiapan manusia untuk melaksanakan hukum-hukum fiqih.
2. Ilmu fiqih merupakan
jembatan yang harus dilalui oleh seseorang yang ingin mendalami ajaran tasawuf.
3. Tasawuf dan fiqih
merupakan dua disiplin ilmu yang saling menyempurnakan.[9]
E. Hubungan Ilmu Tasawuf dengan
Ilmu Psikologi
Tasawuf selalu membicarakan persoalan yang
berkaisar pada jiwa manusia. Hanya saja jiwa yang dimaksud adalah jiwa muslim,
yang tentunya tidak lepas dari sentuhan-sentuhan keislaman. Dari sinilah
tasawuf kelihatan identik dengan unsur kejiwaan manusia muslim. Mengingat
adanya hubungan dan relevansi yang sangat erat antara spiritualitas (tasawuf)
dan ilmu jiwa, terutama ilmu kesehatan mental, kajian tasawuf tidak dapat
terlepas dari kajian tantang kejiwaan manusia itu sendiri. Yang dikehendaki
dari uraian tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam Tasawuf tersebut
adalah terciptanya keserasian antara ke-2 nya. Pembahasan te ntang
jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi dalam rangka melihat sejauh mana
hubungan perilaku yang dipraktikan manusia dengan dorongan yang dimunculkan
jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari sini, baru muncul
kategori-kategori perbuatan manusia, apakah dkategorikan sebagai perbuatan
jelek atau perbuatan baik. Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang baik, ia
disebut orang yang berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang
ditampilkannya jelek, ia disebut sebagai orang yang berakhlak jelek. Dalalm
pandangan kaum sufi, akhlak dan sifat seseorang bergantung pada jenis jiwa yang
berkuasa atas dirinya
Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tentang
hubungan jiwa dengan badan. Dengan demikian tujuan yang dikehendaki dari uraian
tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam tasawuf adalah terciptanya keserasian
antara keduanya.[10]
Keterkaitan antara ilmu psikologi dengan ilmu
tasawuf :
1. Ilmu tasawuf dalam
pembahasannya menekankan unsur jiwa atau bathin manusia, begitu juga ilmu
psikologi.
2. Ilmu psikologi membahas
masalah kesehatan mental, dan hal-hal apa saja yang membuat kerusakan pada
mental sedangkan ilmu tasawuf memberikan langkah-langkah praktis agar orang
senantiasa dapat memiliki mental yang sehat dan bathin yang suci.
3. Ilmu tasawuf memberikan
obat bagi penyakit-penyakit mental manusia. Mental menjadi sakit bila manusia
tidak tenang bathinnya dan jauh dari allah. Ketidaktenangan ini membuat manusia
menjadi sakit mental, dan akhirnya akan bermuara pada prilaku yang tidak normal
dan selalu melanggar norma-norma akhlak yang berlaku. [11]
Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa
tasawuf dan psikologi memiliki hubungan yang erat sekali, karena melalui jiwa
yang benar orang bisa mendapatkan hubungan yang baik dengan penciptaan-Nya,
seperti yang secara luas oleh Al-Ghazali melalui tahapan tasawuf takhalli,
tahlli dan tajalli. Usaha mencapai tahapan ini melalui suatu proses pendidikan
dari segi kejiwaan dengan arti takhiliyah al-nafs dan tahliyan al-nafs.
Takhilliyah al-nafs, usaha penyesuian diri dengan melalui pengosongan diri
dengan sifat-sifat tercela, dan tahliyah al-nafs penghiasan diri dengan sifat
dan akhlak terpuji.[12]
F. Hubungan ilmu Tasawuf dengan
ilmu Kesehatan Mental
Semua praktek dan
amalan-amalan dalam ilmu tasawuf merupakan latihan rohani dan latihan jiwa
unutk melakukan pendekatan spiritual kearah yang lebih baik dan lebih sempurna.
Dengan demikian, amalan-amalan tasawuf tersebut adalah bertujuan unutk mnecari
ketenangan jiwa dan kebersihan hai agar lebih kokoh dalam menempuh
liku-liku problem hidup yang beraneka ragam serta unutk mencari hakekat
kebenaran yang dapat mengatur segala-galanya dengan baik.
Manusia sebagai makhluk alah
memiliki jasmani dan rohani. Salah satu unsure manusia adalah hati (qalbu)
disamping hawa nafsu. Karena itu penyakit yang dapat menimpa manusia ada dua
macam yaitu penyakit jasmani dan penyakit rohani atau jiwa atau qalbu. Seperti
yang dijelaskna dalam al-quran surat albaqarah ayat 10 :
Artinya : dalam hati mereka ada
penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,
disebabkan mereka berdusta.
Dengan tasawuf manusia akan
dapat menghidarkan diri dari prilaku kejiwaan (psikologis) berupa prilkau
memperturutkan hawa nafsu, seperti dengki,sombong, takabbur, serakah, resah,
gelisah, khawatir, stress dan beberapa penyait jiwa lainnya. Tasawuf yang
berusaha unutk melakukan kontak bathin dengan tuhan bahkan berusaha untuk
berada di hadira tuhan, sudah pasti akan memberikan ketentraman bathin dan
kemerdekaan jiwa dari segala pengaruh penyakit hati.
Dengan demikian, antara
tasawuf dengna ilmu jiwa tau ilmu kesehatan mental memiliki hubungan yang
sangat erat karena salah satu tujuan praktis dari ilmu kesehatan mental adalah
agar manusia memiliki ketenangan hati, ketentraman jiwa dan terhindar dari
penyakit-penyakit psikologis sperti dengki, sombong, serakah, takbbur dan
sebagainya.[13]
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Pengertian
Tasawuf
Tasawuf
merupakan salah satu ilmu yang tentu saja berhubungan dengan ilmu lainnya.
Terkadang satu ilmu menjadi pelengkap ilmu yang lain dan bisa juga suatu ilmu
lebih memberikan warna baru untuk ilmu yang lain, sehingga bila digabungkan
maka akan memberikan pemahaman yang lain bagi materi ilmu yang bersangkutan.
2. Hubungan ilmu
Tasawuf dengan ilmu Kalam
Beberapa hal yang dapat
menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam
menurut Tiswani dalam bukunya Buku Daras Akhlak Tasawuf menyatakan :
a. Dilihat dari
materi, ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah sedangkan ilmu
tasawuf dapat menyentuh rasa rohaniah seorang hamba.
b. Dalam ilmu kalam
ditemukan pembahasan iman dan defenisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta
kemunafikan dan batasannya. Sementara itu pada ilmu tasawuf di temukan
pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman,
serta upaya untuk menyelamatkan diri dari kemunafikan.
c. Selain itu, ilmu
tasawuf berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan kalam.
3. Hubungan ilmu Tasawuf
dengan ilmu Filsafat
Ilmu tasawuf sangat erat kaitannya dengan ilmu
filsafat menurut Tiswani dalam bukunyaBuku Daras Akhlak Tasawuf menyatakan
:
a. Ilmu filsafat
memberikan penjelasan terhadap terminologi-terminologi yang digunakan dalam
tasawuf.
b. Ilmu tasawuf dan ilmu
filsafat sama-sama mempunyai tujuan yakni mencari kebenaran sejati atau
kebenaran tertinggi.
c. Ilmu filsafat
lebih pada teori, sedangkan ilmu tasawuf pada aplikasi.
d. Tasawuf landasannya
berpijak dan bertolak dari perasaan sedangkan filsafat landasannya berpijak
pada rasio dan kepandaian menggunakan akal pikiran.
e. Filsafat turut
mempengaruhi materi-materi dalam tasawuf.
4. Hubungan ilmu Tasawuf
dengan ilmu Fiqih
Keterkaitan antara ilmu fiqih dengan ilmu tasawuf
:
a. Ilmu tasawuf
mampu menumbuhkan kesiapan manusia untuk melaksanakan hukum-hukum fiqih.
b. Ilmu fiqih merupakan
jembatan yang harus dilalui oleh seseorang yang ingin mendalami ajaran tasawuf.
c. Tasawuf dan fiqih
merupakan dua disiplin ilmu yang saling menyempurnakan.
5. Hubungan ilmu Tasawuf
dengan ilmu Psikologi
Keterkaitan antara ilmu psikologi dengan ilmu
tasawuf :
a. Ilmu tasawuf
dalam pembahasannya menekankan unsur jiwa atau bathin manusia, begitu juga ilmu
psikologi.
b. Ilmu psikologi membahas
masalah kesehatan mental, dan hal-hal apa saja yang membuat kerusakan pada
mental sedangkan ilmu tasawuf memberikan langkah-langkah praktis agar orang
senantiasa dapat memiliki mental yang sehat dan bathin yang suci.
c. Ilmu tasawuf
memberikan obat bagi penyakit-penyakit mental manusia. Mental menjadi sakit
bila manusia tidak tenang bathinnya dan jauh dari allah. Ketidaktenangan ini
membuat manusia menjadi sakit mental, dan akhirnya akan bermuara pada prilaku
yang tidak normal dan selalu melanggar norma-norma akhlak yang berlaku.
6. Hubungan ilmu Tasawuf
dengan ilmu Kesehatan Mental
Dengan tasawuf manusia akan
dapat menghidarkan diri dari prilaku kejiwaan (psikologis) berupa prilaku
memperturutkan hawa nafsu, seperti dengki,sombong, takabbur, serakah, resah,
gelisah, khawatir, stress dan beberapa penyait jiwa lainnya. Tasawuf yang
berusaha unutk melakukan kontak bathin dengan tuhan bahkan berusaha untuk
berada di hadira tuhan, sudah pasti akan memberikan ketentraman bathin dan
kemerdekaan jiwa dari segala pengaruh penyakit hati.
DAFTAR
PUSTAKA
Duski Samad, 2007, Lebih Dengan Tasawuf ,
padang : IAIN press
Hadis purba, dkk., 2015, Akhlak tasawuf
(membangun karakter islam), Medan : perdana publishing
Tiswani,2007, akhlak tasawuf, Jakarta : Bina
Pratama.
Yunasril ali, 1987, pengantar ilmu tasawuf,
Jakarta : Pedoman ilmu jaya.
[1] Tiswani,akhlak tasawuf, Bina Pratama,
Jakarta,2007,hlm. 94.
[2] Yunasril
ali,pengantar ilmu tasawuf,Pedoman ilmu jaya,Jakarta,1987,hlm. 35.
[3] Rosihan
Anwar, ilmu tasawuf, pustaka setia, bandung,2007,hlm. 88
[4] Yunasril
Ali,op. cit.,hlm. 35-36
[5] Tiswani,op.
cit.,hlm. 95-96
[6] Rosihan
Anwar,op. cit.,hlm. 92
[7] Tiswani,op.
cit.,hlm. 97.
[8] Rosihan
Anwar,op. cit.,hlm. 91-92.
[9] Tiswani,op.
cit.,hlm. 98-99.
[10] Rosihan
Anwar,op. cit.,hlm. 93.
[11] Tiswani,op.
cit.,,hlm. 101.
[12] 2PROF
.DR.H. Duski Samad, M.Ag, Lebih Dengan Tasawuf (padang, IAIN press
2007)hlm.86
[13] Hadis
purba, dkk. Akhlak tasawuf (membangun karakter islam), perdana publishing,
medan, hal 147-149
Tidak ada komentar:
Posting Komentar