
Daripada menuntut
terus persamaan gender, mending setiap wanita berusaha memiliki 8
sifat wanita terbaik berikut ini :
1. Menutup
Aurat
Wanita terbaik itu
menutup auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan
telapak tangan, menurut pendapat terkuat di antara pendapat para ulama.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi,
katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.
Al Ahzab: 59).
Jilbab bukanlah
penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah
memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Katakanlah kepada
wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya.” (QS. An Nuur: 31).
2. Berbusana
dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i
Wanita yang menjadi
idaman sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami
sarikan dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
Syarat pertama
: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.
Syarat kedua : Bukan
memakai pakaian untuk berhias diri.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu
tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah
pertama.” (QS. Al Ahzab : 33).
Abu ‘Ubaidah
mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj
mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat
mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”
Syarat ketiga
: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk
lekuk tubuh.
Syarat keempat
: Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia
berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Seorang perempuan
yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium
bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR.
An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’
no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Syarat kelima
: Tidak menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu
Abbas radhiyallahu ‘anhuberkata,
لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Rasulullah melaknat
kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.”
(HR. Bukhari no. 6834)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.(HR. Ahmad dan Abu
Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini
jayid/bagus)
Inilah di antara
beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang
pantas dijadikan kriteria.
3. Betah
Tinggal di Rumah
Di antara yang
diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah
dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali
ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan
masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan tinggallah
kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana
dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).
Ibnu Katsir ketika
menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam
rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada
kebutuhan”.
Disebutkan bahwa ada
orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, “Mengapa engkau tidak
berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu
para istri Nabi yang lain, pent)?” Jawaban beliau, “Aku sudah pernah
berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam
rumah”. Perawi mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu
rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan”. Sungguh moga
Allah ridha kepadanya.
Ibnul ‘Arabi
bercerita, “Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan namun aku
tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan
di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Selama
aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari
kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk
ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat
Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak
melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnya”.
Dari Abdullah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا”
“Sesungguhnya
perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan
perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di
dalam rumahnya”. (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa
sanad hadits ini shahih)
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari
rumah kecuali dengan izin suaminya.” Beliau juga berkata, “Bila si istri keluar
rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan),
bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa.”
(Majmu’ Al-Fatawa, 32: 281)
4. Memiliki
Sifat Malu
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah
mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari
‘Imron bin Hushain.)
Kriteria ini juga
semestinya ada pada setiap wanita. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria.
Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan
contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala
berfirman,
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)
“Dan tatkala ia
sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang
sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu,
dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah
maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami
tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu
memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut
umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS.
Qashash: 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka
malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba
bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!
Tidak cukup sampai di
situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka
tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan
firman-Nya,
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا
“Kemudian datanglah
kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia
berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan
terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (QS. Al Qashash : 25)
Ayat yang mulia
ini,menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu.
Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh
dengan rasa malu dan terhormat.
Amirul Mukminin Umar
bin Khoththob rodiyallohu ‘anhu mengatakan, “Gadis itu menemui Musa ‘alaihis
salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya.” Sanad riwayat
ini shahih.
5. Taat
dan Menyenangkan Hati Suami
Istri yang taat pada
suami, senang dipandang dan tidak membangkang yang membuat suami benci, itulah
sebaik-baik wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling
baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya,
mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan
hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Begitu pula tempat
seorang wanita di surga ataukah di neraka dilihat dari sikapnya terhadap
suaminya, apakah ia taat ataukah durhaka.
Al Hushoin bin
Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan.
Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Apakah engkau sudah
bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau
terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia
menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku
tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di
mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga
dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana
kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
6. Menjaga
Kehormatan, Anak dan Harta Suami
Allah Ta’ala
berfirman,
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Sebab itu maka
wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada” (QS. An Nisa’: 34).
Ath Thobari
mengatakan dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya
ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping
itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”
7. Bersyukur
dengan Pemberian Suami
Seorang istri harus
pandai-pandai berterima kasih kepada suaminya atas semua yang telah diberikan
suaminya kepadanya. Bila tidak, si istri akan berhadapan dengan ancaman neraka
Allah Ta’ala.
Seselesainya dari
shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan aku melihat
neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan
aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya,
“Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau,
“Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak,
melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami).
Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu
waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan
di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat
kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). Lihatlah
bagaimana kekufuran si wanita cuma karena melihat kekurangan suami sekali saja,
padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Hujan setahun seakan-akan terhapus
dengan kemarau sehari.
8. Berdandan
dan Berhias Diri Hanya Spesial untuk Suami
Sebagian istri saat
ini di hadapan suami bergaya seperti tentara, berbau arang (alias: dapur) dan
jarang mau berhias diri. Namun ketika keluar rumah, ia keluar bagai bidadari.
Ini sungguh terbalik. Seharusnya di dalam rumah, ia berusaha menyenangkan
suami. Demikianlah yang dinamakan sebaik-baik wanita.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita
yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat
suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri
dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2:
251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Semoga bermanfaat
bagi setiap wanita. Moga Allah memberi taufik untuk mengamalkannya.

Daripada menuntut
terus persamaan gender, mending setiap wanita berusaha memiliki 8
sifat wanita terbaik berikut ini :
1. Menutup
Aurat
Wanita terbaik itu
menutup auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan
telapak tangan, menurut pendapat terkuat di antara pendapat para ulama.
Allah Ta’ala berfirman,
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi,
katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.
Al Ahzab: 59).
Jilbab bukanlah
penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah
memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Katakanlah kepada
wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya.” (QS. An Nuur: 31).
2. Berbusana
dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i
Wanita yang menjadi
idaman sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami
sarikan dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
Syarat pertama
: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.
Syarat kedua : Bukan
memakai pakaian untuk berhias diri.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu
tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah
pertama.” (QS. Al Ahzab : 33).
Abu ‘Ubaidah
mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj
mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat
mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”
Syarat ketiga
: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk
lekuk tubuh.
Syarat keempat
: Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia
berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Seorang perempuan
yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium
bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR.
An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’
no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Syarat kelima
: Tidak menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu
Abbas radhiyallahu ‘anhuberkata,
لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Rasulullah melaknat
kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.”
(HR. Bukhari no. 6834)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.(HR. Ahmad dan Abu
Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini
jayid/bagus)
Inilah di antara
beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang
pantas dijadikan kriteria.
3. Betah
Tinggal di Rumah
Di antara yang
diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah
dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali
ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan
masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan tinggallah
kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana
dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).
Ibnu Katsir ketika
menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam
rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada
kebutuhan”.
Disebutkan bahwa ada
orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, “Mengapa engkau tidak
berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu
para istri Nabi yang lain, pent)?” Jawaban beliau, “Aku sudah pernah
berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam
rumah”. Perawi mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu
rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan”. Sungguh moga
Allah ridha kepadanya.
Ibnul ‘Arabi
bercerita, “Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan namun aku
tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan
di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Selama
aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari
kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk
ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat
Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak
melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnya”.
Dari Abdullah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا”
“Sesungguhnya
perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan
perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di
dalam rumahnya”. (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa
sanad hadits ini shahih)
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari
rumah kecuali dengan izin suaminya.” Beliau juga berkata, “Bila si istri keluar
rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan),
bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa.”
(Majmu’ Al-Fatawa, 32: 281)
4. Memiliki
Sifat Malu
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah
mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari
‘Imron bin Hushain.)
Kriteria ini juga
semestinya ada pada setiap wanita. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria.
Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan
contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala
berfirman,
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)
“Dan tatkala ia
sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang
sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu,
dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah
maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami
tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu
memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut
umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS.
Qashash: 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka
malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba
bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!
Tidak cukup sampai di
situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka
tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan
firman-Nya,
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا
“Kemudian datanglah
kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia
berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan
terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (QS. Al Qashash : 25)
Ayat yang mulia
ini,menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu.
Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh
dengan rasa malu dan terhormat.
Amirul Mukminin Umar
bin Khoththob rodiyallohu ‘anhu mengatakan, “Gadis itu menemui Musa ‘alaihis
salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya.” Sanad riwayat
ini shahih.
5. Taat
dan Menyenangkan Hati Suami
Istri yang taat pada
suami, senang dipandang dan tidak membangkang yang membuat suami benci, itulah
sebaik-baik wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling
baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya,
mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan
hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Begitu pula tempat
seorang wanita di surga ataukah di neraka dilihat dari sikapnya terhadap
suaminya, apakah ia taat ataukah durhaka.
Al Hushoin bin
Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan.
Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Apakah engkau sudah
bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau
terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia
menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku
tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di
mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga
dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana
kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
6. Menjaga
Kehormatan, Anak dan Harta Suami
Allah Ta’ala
berfirman,
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Sebab itu maka
wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada” (QS. An Nisa’: 34).
Ath Thobari
mengatakan dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya
ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping
itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”
7. Bersyukur
dengan Pemberian Suami
Seorang istri harus
pandai-pandai berterima kasih kepada suaminya atas semua yang telah diberikan
suaminya kepadanya. Bila tidak, si istri akan berhadapan dengan ancaman neraka
Allah Ta’ala.
Seselesainya dari
shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan aku melihat
neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan
aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya,
“Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau,
“Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak,
melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami).
Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu
waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan
di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat
kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). Lihatlah
bagaimana kekufuran si wanita cuma karena melihat kekurangan suami sekali saja,
padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Hujan setahun seakan-akan terhapus
dengan kemarau sehari.
8. Berdandan
dan Berhias Diri Hanya Spesial untuk Suami
Sebagian istri saat
ini di hadapan suami bergaya seperti tentara, berbau arang (alias: dapur) dan
jarang mau berhias diri. Namun ketika keluar rumah, ia keluar bagai bidadari.
Ini sungguh terbalik. Seharusnya di dalam rumah, ia berusaha menyenangkan
suami. Demikianlah yang dinamakan sebaik-baik wanita.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita
yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat
suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri
dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2:
251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Semoga bermanfaat
bagi setiap wanita. Moga Allah memberi taufik untuk mengamalkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar