Senin, 09 Mei 2016

wisata kabupaten langkat

Babussalam

Babussalam menurut bahasa Arab artinya adalah “Pintu Kesejahteraan”. Babussalam merupakan sebuah lokasi wisata religious dan bangunannya dapat disebut sebagai cagar budaya. Pusat pengajian Tariqat Naqsyabandi ini dibangun pada tahun 1876 oleh Allah Yarham Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan yang lebih popular disebut Tuan Guru Besilam. Tuan Syekh yang pertama ini lahir pada tanggal 28 September 1830 M, di Danau Randa Rantau Pinuang Sakti Negeri Tinggi Bengkalis. Beliau meninggal 28 November 1886. Jasad dan anggota keluarganya disemayamkan di sebuah bangunan yang arsitekturnya menyerupai mesjid yang terletak di samping Mesjid Babussalam.

Babussalam ini ramai dikunjungi oleh jemaah terutama pengikut tariqat Naqsyabandi baik dari dalam negeri maupun mancanegara seperti dari Negara tetangga Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Thailand dan Philipina. Puncak kunjungan peziarah yang paling padat adalah pada saat diperingatinya hari wafatnya beliau yang lazim disebut Haul Tuan Guru Besilam. Tak kurang 5000 – 7000 orang tumpah ruah ketika puncak peringatan itu dilaksanakan.

Salah satu mesjid bersejarah dengan arsitektur yang begitu indah dan megah di Sumatera Utara adalah Mesjid Azizi yang terletak di Kota Tanjung Pura. Mesjid yang dibangun oleh Sultan Abdul Aziz, Sultan Langkat pada masa itu, berdiri pada tahun 1902 dengan luas areal +- 24.000 m2.

Mesjid dengan arsitektur yang indah dan anggun ini dipercantik dengan pasangan mozaik-mozaik Persia. Mesjid yang berada di pinggir jalan jurusan Medan Banda Aceh ini setiap harinya banyak disinggahi orang untuk sholat, bahkan tak jarang mereka mengambil kesempatan untuk berziarah ke makam Tengku Amir Hamzah yang dikenal sebagai raja Pujangga Baru dunia Sastra Indonesia. Makamnya terletak persis di sisi kiri Mesjid ini.

Untuk mengembalikan kemegahan dan kemasyuran mesjid ini, Pemerintah kabupaten Langkat melaksanakan Festifal Azizi setiap tahunnya. Kegiatan ini sudah merupakan kalender / event Kantor Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Langkat. Berbagai kegiatan seperti Bazaar/ Pameran dan Perlombaan Seni Budaya Islami digelar diseputar lokasi Mesjid. Kegiatan ini setiap tahunnya dilakukan bersamaan waktunya dengan acara Haul Tual Guru Besilam. Beberapa Pemerintah Kabupaten / Kota juga berpartisipasi pada festival ini.

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki sebuah objek ekowisata terkenal bernama Bukit Lawang. Sebelumnya, Bukit Lawang dikenal dengan nama pemandian Kepala Paret karena di tempat ini terdapat pintu air utama untuk mengairi persawahan di Desa Timbang Lawan. Setelah banjir bandang yang meluluhlantakkan kawasan ini pada November 2003 lalu, Bukit Lawang kembali dibangun menjadi salah satu tempat wisata yang patut dikunjungi di Sumatera Utara. Bukit Lawang terletak di kawasan hutan kaki Taman Nasional Gunung Leuser, tepatnya di Bohorok, Langkat, Sumatera Utara.

Di Kabupaten Langkat tepatnyadi Kecamtan Bahorok, kita mengenal objek wisata Bukit Lawang. Bukit Lawang merupakan kawasan wisata yang mngedeankan keindahan alam; rimba belantara, Taman Nasional Gunung Leuser, lika-liku sungai bahorok yang berair jernih dan sejuk dihiasi air terjun kecil membuat suasana kawasan ini begitu nyaman. Daya tarik ini dilengkapi pula dengan adanya Pusat rehabilitasi Orang Utan yang merupakan program kerja sebuah badan dunia World Wide Life Fund (WWF).

Dilokasi ini kita dapat menyaksikan bagaimana para petugas merehabilitasi perikehidupan orang utan yang elama ini tak mengenal alam terbuka sebagai habitat kehidupammya. Pemeriksaan secara teratur dan upaya mengenal kembali hutan sebagai menarik minat turis mancanegara.

Kawasan Bukti Lawang yang memadukan aneka keindahan alam seerti hutan, sungai, air terjun dan beberapa gua merupakan daya pikat untu melakukan aktifitas; treaking, rafting, tubbing, cross country dan berkemah atau camping. Disamping itu beberapa fasilitas berupa cottage (pondok wisata), restaurant, gerai souvenir, money changer, kios telepon umum dan camping ground semakin melengkapi kebutuhan kunjungan anda.Saat ini, Bukit Lawang tidak sulit dijangkau menggunakan kendaraan umum. Dari Terminal Pinang Baris di Medan, anda pengunjung harus mencai bus jurusan Binjai. Perjalanan berikutnya dari Binjai menuju Kecamatan Bukit Lawang akan melewati jalanan yang rindang oleh deretan pohon karet dan kelapa sawit di perkebunan-perkebunan rakyat. Sesampainya di Desa Empus, Bohorok, pemandangan sekitar akan dihiasi hamparan sawah dan perumahan sederhana milik warga setempat. Seluruh perjalanan berjarak 96 kilometer itu ditempuh dalam waktu 3 jam.

Saat ini telah banyak penginapan yang berdiri di kawasan wisata Bukit Lawang. Penginapan yang pertama dibangun adalah Bukit Lawang Cottages. Karena konsep awalnya adalah mengakomodasi kegiatan wisata ekologi, Bukit Lawang Cottages sering disebut sebagai Bukit Lawang Eco-Lodge. Selain orangutan, kawasan memiliki daya tarik alami yang lain seperti hutan, sungai, air terjun dan beberapa gua yang sangat sesuai untuk kegiatan treaking, rafting, tubbing, cross country dan camping

Kawasan Ekowisata Tangkahan berada di Kecamatan Batang Seranagn. Hamparan hutan rimba yang menyelimuti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang menyimpan ribuan macam Flora serta berbagai jenis Fauna seperti Orang Utan, Harimau Sumatera, Kedih, gajah dan beberapa jenis burung langka yang dilindungi seperti Kuaw, Merak dan Enggang, menjadikan alam tangkahan begitu memukau dan mempesona. Terdapat juga fauna langka yang tetap dilestarikan seperti bunga bangkai raflesia yang mengundang wisatawan untuk mengunjungi tempat ini.

Air sungai Batang Serangan yang banyak dihuni jenis-jenis ikan tawar seperti jurung, sibarau, can-can dan lain-lain sangat menjanjikan sebagai tempat rekreasi memancing. Dilokasi ini juga telah tersedia 3 buah Cottage atau pondok wisata yang dibangun di kesunyian rimba kawasan ini. Bagi mereka yang berjiwa petualangan, objek ini sangat menantang untuk melakukan aktifitas tracking, Tubbing, camping atau ingin menikmati perjalanan di seputar kawasan dengan menunggang gajah.

Di tempat ini juga kita dapat menjumpai dan menikmati air panas, air terjun serta gua-gua yang begitu fantastis.

Ekowisata Tangkahan ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua. Lokasi yang berjarak sekitar 90 km dari kota Binjai memakan waktu tempuh sekitar 3 jam. Kawasan ini selalu menjadi tempat dilakukannya berbagai kegiatan-kegiatan seminar oleh beberapa LSM yang sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan

Itulah sebabnya upaya yang dilakukan masyarakat melalui Lembaga pariwisata Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) serta LSM Peduli Lingkungan telah menghasilkan penghargaan konservasi alam tingkat Nasional pada tahun 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar