Babussalam
Babussalam menurut bahasa Arab artinya adalah “Pintu
Kesejahteraan”. Babussalam merupakan sebuah lokasi wisata religious dan
bangunannya dapat disebut sebagai cagar budaya. Pusat pengajian Tariqat
Naqsyabandi ini dibangun pada tahun 1876 oleh Allah Yarham Tuan Syekh Abdul
Wahab Rokan yang lebih popular disebut Tuan Guru Besilam. Tuan Syekh yang
pertama ini lahir pada tanggal 28 September 1830 M, di Danau Randa Rantau
Pinuang Sakti Negeri Tinggi Bengkalis. Beliau meninggal 28 November 1886. Jasad
dan anggota keluarganya disemayamkan di sebuah bangunan yang arsitekturnya
menyerupai mesjid yang terletak di samping Mesjid Babussalam.
Babussalam ini ramai dikunjungi oleh jemaah terutama
pengikut tariqat Naqsyabandi baik dari dalam negeri maupun mancanegara seperti
dari Negara tetangga Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Thailand dan
Philipina. Puncak kunjungan peziarah yang paling padat adalah pada saat
diperingatinya hari wafatnya beliau yang lazim disebut Haul Tuan Guru Besilam.
Tak kurang 5000 – 7000 orang tumpah ruah ketika puncak peringatan itu
dilaksanakan.
Salah satu mesjid bersejarah dengan arsitektur yang begitu
indah dan megah di Sumatera Utara adalah Mesjid Azizi yang terletak di Kota
Tanjung Pura. Mesjid yang dibangun oleh Sultan Abdul Aziz, Sultan Langkat pada
masa itu, berdiri pada tahun 1902 dengan luas areal +- 24.000 m2.
Mesjid dengan arsitektur yang indah dan anggun ini
dipercantik dengan pasangan mozaik-mozaik Persia. Mesjid yang berada di pinggir
jalan jurusan Medan Banda Aceh ini setiap harinya banyak disinggahi orang untuk
sholat, bahkan tak jarang mereka mengambil kesempatan untuk berziarah ke makam
Tengku Amir Hamzah yang dikenal sebagai raja Pujangga Baru dunia Sastra Indonesia.
Makamnya terletak persis di sisi kiri Mesjid ini.
Untuk mengembalikan kemegahan dan kemasyuran mesjid ini,
Pemerintah kabupaten Langkat melaksanakan Festifal Azizi setiap tahunnya.
Kegiatan ini sudah merupakan kalender / event Kantor Kebudayaan dan Pariwisata
kabupaten Langkat. Berbagai kegiatan seperti Bazaar/ Pameran dan Perlombaan
Seni Budaya Islami digelar diseputar lokasi Mesjid. Kegiatan ini setiap
tahunnya dilakukan bersamaan waktunya dengan acara Haul Tual Guru Besilam.
Beberapa Pemerintah Kabupaten / Kota juga berpartisipasi pada festival ini.
Taman Nasional Gunung Leuser memiliki sebuah objek
ekowisata terkenal bernama Bukit Lawang. Sebelumnya, Bukit Lawang dikenal
dengan nama pemandian Kepala Paret karena di tempat ini terdapat pintu air
utama untuk mengairi persawahan di Desa Timbang Lawan. Setelah banjir bandang
yang meluluhlantakkan kawasan ini pada November 2003 lalu, Bukit Lawang kembali
dibangun menjadi salah satu tempat wisata yang patut dikunjungi di Sumatera
Utara. Bukit Lawang terletak di kawasan hutan kaki Taman Nasional Gunung Leuser,
tepatnya di Bohorok, Langkat, Sumatera Utara.
Di Kabupaten Langkat tepatnyadi Kecamtan Bahorok, kita
mengenal objek wisata Bukit Lawang. Bukit Lawang merupakan kawasan wisata yang
mngedeankan keindahan alam; rimba belantara, Taman Nasional Gunung Leuser,
lika-liku sungai bahorok yang berair jernih dan sejuk dihiasi air terjun kecil
membuat suasana kawasan ini begitu nyaman. Daya tarik ini dilengkapi pula
dengan adanya Pusat rehabilitasi Orang Utan yang merupakan program kerja sebuah
badan dunia World Wide Life Fund (WWF).
Dilokasi
ini kita dapat menyaksikan bagaimana para petugas merehabilitasi perikehidupan
orang utan yang elama ini tak mengenal alam terbuka sebagai habitat
kehidupammya. Pemeriksaan secara teratur dan upaya mengenal kembali hutan
sebagai menarik minat turis mancanegara.
Kawasan Bukti Lawang yang memadukan aneka keindahan alam
seerti hutan, sungai, air terjun dan beberapa gua merupakan daya pikat untu
melakukan aktifitas; treaking, rafting, tubbing, cross country dan berkemah
atau camping. Disamping itu beberapa fasilitas berupa cottage (pondok wisata),
restaurant, gerai souvenir, money changer, kios telepon umum dan camping ground
semakin melengkapi kebutuhan kunjungan anda.Saat ini, Bukit Lawang
tidak sulit dijangkau menggunakan kendaraan umum. Dari Terminal Pinang Baris di
Medan, anda pengunjung harus mencai bus jurusan Binjai. Perjalanan berikutnya
dari Binjai menuju Kecamatan Bukit Lawang akan melewati jalanan yang rindang
oleh deretan pohon karet dan kelapa sawit di perkebunan-perkebunan rakyat.
Sesampainya di Desa Empus, Bohorok, pemandangan sekitar akan dihiasi hamparan
sawah dan perumahan sederhana milik warga setempat. Seluruh perjalanan berjarak
96 kilometer itu ditempuh dalam waktu 3 jam.
Saat ini telah banyak penginapan yang berdiri di kawasan
wisata Bukit Lawang. Penginapan yang pertama dibangun adalah Bukit Lawang
Cottages. Karena konsep awalnya adalah mengakomodasi kegiatan wisata ekologi,
Bukit Lawang Cottages sering disebut sebagai Bukit Lawang Eco-Lodge. Selain
orangutan, kawasan memiliki daya tarik alami yang lain seperti hutan, sungai,
air terjun dan beberapa gua yang sangat sesuai untuk kegiatan treaking,
rafting, tubbing, cross country dan camping
Kawasan Ekowisata
Tangkahan berada di Kecamatan Batang Seranagn. Hamparan hutan rimba yang
menyelimuti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang menyimpan ribuan macam
Flora serta berbagai jenis Fauna seperti Orang Utan, Harimau Sumatera, Kedih,
gajah dan beberapa jenis burung langka yang dilindungi seperti Kuaw, Merak dan
Enggang, menjadikan alam tangkahan begitu memukau dan mempesona. Terdapat juga
fauna langka yang tetap dilestarikan seperti bunga bangkai raflesia yang mengundang
wisatawan untuk mengunjungi tempat ini.
Air sungai Batang Serangan yang banyak dihuni jenis-jenis
ikan tawar seperti jurung, sibarau, can-can dan lain-lain sangat menjanjikan
sebagai tempat rekreasi memancing. Dilokasi ini juga telah tersedia 3 buah
Cottage atau pondok wisata yang dibangun di kesunyian rimba kawasan ini. Bagi
mereka yang berjiwa petualangan, objek ini sangat menantang untuk melakukan
aktifitas tracking, Tubbing, camping atau ingin menikmati perjalanan di seputar
kawasan dengan menunggang gajah.
Di tempat ini juga kita dapat menjumpai dan menikmati air
panas, air terjun serta gua-gua yang begitu fantastis.
Ekowisata Tangkahan ini dapat dicapai dengan menggunakan
kendaraan roda empat dan roda dua. Lokasi yang berjarak sekitar 90 km dari kota
Binjai memakan waktu tempuh sekitar 3 jam. Kawasan ini selalu menjadi tempat
dilakukannya berbagai kegiatan-kegiatan seminar oleh beberapa LSM yang sangat
peduli terhadap pelestarian lingkungan
Itulah sebabnya upaya yang dilakukan masyarakat melalui
Lembaga pariwisata Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) serta LSM
Peduli Lingkungan telah menghasilkan penghargaan konservasi alam tingkat
Nasional pada tahun 2006.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar