Metode perumpamaan
Perumpamaan
berarti pemberian contoh, yaitu menuturkan sesuatu guna menjelaskan sesuatu
keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicontohkan. Lalu, menonjolkan
keburukan yang tersamar[1].
Sehubung dengan ini ditemukan hadis, antara lain sebagai berikut:
“abu
musa al-asy’ari meriwayatkan bahwa rasulullah saw bersabda : perumpamaan
seorang mukmin yang membaca Alquran adalah bagaikan buah utrujjah. Aromanya
harum dan rasanya enak.perumpamaan seorang mukmin yang tidak embaca alquranadalah
bagaikan buah tamar (kurma). Aromanya tidak ada, tetapi rasanya manis.
Perumpamaan seorang munafik yang membaca alquran adaah bagaikan
raihanah.aromanya harum tetapi rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang
tidak membaca alquran bagaikan buah hanzalah. Aromanya tidak ada dan rasanya
pahit.” (HR. al bukhari, muslim, abu dawud at tirmidzi dan an nasai)
Dalam
hadis ini terdapat empat golongan manusia apabila dihubungkan dengan alquran,
yaitu sebagai berikut:
1. Orang
yang hatinya dipenuhi iman. Iman mengalir ke sekujur anggotanya. Ia yakin
kepada allah, beriman kepada rasul Nya. Membenarkan alquran, mengamalkan agama,
menjadikan dirinya bagian dari alquran .ia membacanya pada malam dan siang hari
(baik ketika berdiri. Ruku’, maupun sujud. Kapan saja ada kesempatan untuk
membacanya, selalu ia memanfaatkan, sehingga hatinya tidak berpaling dan
mengingat allah dan setan tidak dapat mengganggunya. Bacaanya tidak sekadar
lidah. Kan tetapi, hatinya juga membaca sehingga membuahkan rasa takut,
mendapat petunjuk, melahirkan amal kebajikan, dan menghasilkan pendirian teguh.
Ia bagaika buah utrujjah, aromanya harum dan rasanya manis.
2. Orang
yang beriman kepada alquran, menetapkan hukumnya, mengikuti petunjuknya, dan
menetapkan akhlaknya. Tetapi tidak membaca dan menghafal alquran. Ia bagaikan
buah yang manis, tetapi aromanya tidak ada.
3. Orang
jahat (munafik) yang idak memiliki iman, kecuali sekadar lisan. Agamanya
hanyalah merek. Ia mambaca alquran, menghafalnya dengan baik, meyakini
syariatnya, mengenal bacaanya, serta membaguskan lafal dan iramanya. Teteappi
bacaanya itu tidak melampaui kerongkongannya. Apabila engkau mengujinya, engkau
akan tahu bahwa hatinya busuk dan gelap, akhlaknya buruk, serta perbuatanya
berbahaya. Inilah yang dicontohkan rasulullah dengan buah raihanah. Apabila
anda cium, aromanya harum, tetapi apabila anda makan rasanya pahit. Hatinya
cenderung kepada keburukan. Anda akan merasakanya jika anda bergaul denganya.
Tidak ada pengaruh alquran terhadap dirinya Karen akejahatanya telah menutup
hatinya dan nasihat orang lain tidak berguna baginya.
4. Orang
jahat (munafik) Yang tidak ada hubunganya denganang alquran. Ia tidak memiliki
ilmu tentang alquran, tidak mengamalkanya, tidak membaca, tiak menghafalnya.
Orang ini disunnahkan oleh rasulullah dengan buah hanzhalah yang tidak beraroma
dan rasanya.
Berdasarkan
hadis yang sudah dikemukana terdapat nilai-nilai kepenidikan sebagai berukut:
1. Rasulllah
mengemukakan perbandingan kualitas manusia dengan buah-buah yang bermanfaat dan
yang tidak bermanfaat dalamkehidupan manusia. Itu sekaligus merupakan
alternative abagi manusia untuk menempatkan dirinya.
2. Dalam
mendidik mat, rasulullah menggunakan pendekatan rasional dan fungsional. Dengan
pendekatan rasional, manusia di ajak berpikir dalam membedakan mana yang
terbaik, mana yang kurang baik, dan mana
yang buruk. Dengan pendekatan fungsional, beliau memperkenalkan kepada manusia
menfaat yang dipeoleh oleh seseorang apabila memilih sesuatu yang baik dan
kerugian yang akan ditimbulkan apabila memilih sesuatu yang buruk
3. Iman
yang benar perlu dibuktikan dengan amal yang shaleh. Amal yang baik perlu
dilandasi oleh iman yang benar. Keserasian keduanya dapat mengangkat derajat
manusia di sisi allah. Mengambil salah satunya saja tidak dapat menjamin
kualitas umat yang beriman.
Abdurrajman
An-Nahlawi menjelaskan bahwa metode perumpamaan Qurani dan Nabawi memiliki
tujuan psikologis edukatif, yaitu sebagai berikut:
1. Memudahkan
pemahaman mengenai suatu konsep
2. Mempengaruhi
emosi yang sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka
perasaan ketuhanan.
3. Membina
akal untuk terbiasa berfikir secara valid dan analogis
4. Mampu
menciptakan motivasi yang menggerakkan aspek emosi dan mental manusia
Setelah
memperhatikan tujuan dan dampak yang ingin diperoleh diatas, sebaiknya pendidik
menggunakan metode perumpamaan ini dalam pendidikan islam. Perumpamaan yang
terbaik adalah perumpamaan Qurani dan Nabawi, yaitu perumpamaan yang terdapat
dala alquran dan hadist.
[1]
Abdurrahman An-Nahlawi, pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan masyarakat,
(Jakarta: gema insane press, 2004), hlm. 251.Metode perumpamaan
Perumpamaan
berarti pemberian contoh, yaitu menuturkan sesuatu guna menjelaskan sesuatu
keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicontohkan. Lelu, menonjolkan
keburukan yang tersamar[1].
Sehubung dengan ini ditemukan hadis, antara lain sebagai berikut
“abu
musa al-asy’ari meriwayatkan bahwa rasulullah saw bersabda : perumpamaan
seorang mukmin yang membaca alquran adalah bagaikan buah utrujjah. Aromanya
harum dan rasanya enak.perumpamaan seorang mukmin yang tidak embaca alquranadalah
bagaikan buah tamar (kurma). Aromanya tidak ada, tetapi rasanya manis.
Perumpamaan seorang munafik yang membaca alquran adaah bagaikan
raihanah.aromanya harum tetapi rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang
tidak membaca alquran bagaikan buah hanzalah. Aromanya tidak ada dan rasanya
pahit.” (HR> al bukhari, muslim, abu dawud at tirmidzi dan an nasai)
Dalam
hadis ini terdapat empat golongan manusia apabila dihubungkan dengan alquran,
yaitu sebagai berikut:
1. Orang
yang hatinya dipenuhi iman. Iman mengalir ke sekujur anggotanya. Ia yakin
kepada allah, beriman kepada rasul Nya. Membenarkan alquran, mengamalkan agama,
menjadikan dirinya bagian dari alquran .ia membacanya pada malam dan siang hari
(baik ketika berdiri. Ruku’, maupun sujud. Kapan saja ada kesempatan untuk
membacanya, selalu ia memanfaatkan, sehingga hatinya tidak berpaling dan
mengingat allah dan setan tidak dapat mengganggunya. Bacaanya tidak sekadar
lidah. Kan tetapi, hatinya juga membaca sehingga membuahkan rasa takut,
mendapat petunjuk, melahirkan amal kebajikan, dan menghasilkan pendirian teguh.
Ia bagaika buah utrujjah, aromanya harum dan rasanya manis.
2. Orang
yang beriman kepada alquran, menetapkan hukumnya, mengikuti petunjuknya, dan
menetapkan akhlaknya. Tetapi tidak membaca dan menghafal alquran. Ia bagaikan
buah yang manis, tetapi aromanya tidak ada.
3. Orang
jahat (munafik) yang idak memiliki iman, kecuali sekadar lisan. Agamanya
hanyalah merek. Ia mambaca alquran, menghafalnya dengan baik, meyakini
syariatnya, mengenal bacaanya, serta membaguskan lafal dan iramanya. Teteappi
bacaanya itu tidak melampaui kerongkongannya. Apabila engkau mengujinya, engkau
akan tahu bahwa hatinya busuk dan gelap, akhlaknya buruk, serta perbuatanya
berbahaya. Inilah yang dicontohkan rasulullah dengan buah raihanah. Apabila
anda cium, aromanya harum, tetapi apabila anda makan rasanya pahit. Hatinya
cenderung kepada keburukan. Anda akan merasakanya jika anda bergaul denganya.
Tidak ada pengaruh alquran terhadap dirinya Karen akejahatanya telah menutup
hatinya dan nasihat orang lain tidak berguna baginya.
4. Orang
jahat (munafik) Yang tidak ada hubunganya denganang alquran. Ia tidak memiliki
ilmu tentang alquran, tidak mengamalkanya, tidak membaca, tiak menghafalnya.
Orang ini disunnahkan oleh rasulullah dengan buah hanzhalah yang tidak beraroma
dan rasanya.
Berdasarkan
hadis yang sudah dikemukana terdapat nilai-nilai kepenidikan sebagai berukut:
1. Rasulllah
mengemukakan perbandingan kualitas manusia dengan buah-buah yang bermanfaat dan
yang tidak bermanfaat dalamkehidupan manusia. Itu sekaligus merupakan
alternative abagi manusia untuk menempatkan dirinya.
2. Dalam
mendidik mat, rasulullah menggunakan pendekatan rasional dan fungsional. Dengan
pendekatan rasional, manusia di ajak berpikir dalam membedakan mana yang
terbaik, mana yang kurang baik, dan mana
yang buruk. Dengan pendekatan fungsional, beliau memperkenalkan kepada manusia
menfaat yang dipeoleh oleh seseorang apabila memilih sesuatu yang baik dan
kerugian yang akan ditimbulkan apabila memilih sesuatu yang buruk
3. Iman
yang benar perlu dibuktikan dengan amal yang shaleh. Amal yang baik perlu
dilandasi oleh iman yang benar. Keserasian keduanya dapat mengangkat derajat
manusia di sisi allah. Mengambil salah satunya saja tidak dapat menjamin
kualitas umat yang beriman.
Abdurrajman
An-Nahlawi menjelaskan bahwa metode perumpamaan Qurani dan Nabawi memiliki
tujuan psikologis edukatif, yaitu sebagai berikut:
1. Memudahkan
pemahaman mengenai suatu konsep
2. Mempengaruhi
emosi yang sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka
perasaan ketuhanan.
3. Membina
akal untuk terbiasa berfikir secara valid dan analogis
4. Mampu
menciptakan motivasi yang menggerakkan aspek emosi dan mental manusia
Setelah
memperhatikan tujuan dan dampak yang ingin diperoleh diatas, sebaiknya pendidik
menggunakan metode perumpamaan ini dalam pendidikan islam. Perumpamaan yang
terbaik adalah perumpamaan Qurani dan Nabawi, yaitu perumpamaan yang terdapat
dala alquran dan hadist.
[1]
Abdurrahman An-Nahlawi, pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan masyarakat,
(Jakarta: gema insane press, 2004), hlm. 251.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar