Senin, 09 Mei 2016

Metode perumpamaan

Metode  perumpamaan




 Perumpamaan berarti pemberian contoh, yaitu menuturkan sesuatu guna menjelaskan sesuatu keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicontohkan. Lalu, menonjolkan keburukan yang tersamar[1]. Sehubung dengan ini ditemukan hadis, antara lain sebagai berikut:

“abu musa al-asy’ari meriwayatkan bahwa rasulullah saw bersabda : perumpamaan seorang mukmin yang membaca Alquran adalah bagaikan buah utrujjah. Aromanya harum dan rasanya enak.perumpamaan seorang mukmin yang tidak embaca alquranadalah bagaikan buah tamar (kurma). Aromanya tidak ada, tetapi rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang membaca alquran adaah bagaikan raihanah.aromanya harum tetapi rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca alquran bagaikan buah hanzalah. Aromanya tidak ada dan rasanya pahit.” (HR. al bukhari, muslim, abu dawud at tirmidzi dan an nasai)
Dalam hadis ini terdapat empat golongan manusia apabila dihubungkan dengan alquran, yaitu sebagai berikut:
1.    Orang yang hatinya dipenuhi iman. Iman mengalir ke sekujur anggotanya. Ia yakin kepada allah, beriman kepada rasul Nya. Membenarkan alquran, mengamalkan agama, menjadikan dirinya bagian dari alquran .ia membacanya pada malam dan siang hari (baik ketika berdiri. Ruku’, maupun sujud. Kapan saja ada kesempatan untuk membacanya, selalu ia memanfaatkan, sehingga hatinya tidak berpaling dan mengingat allah dan setan tidak dapat mengganggunya. Bacaanya tidak sekadar lidah. Kan tetapi, hatinya juga membaca sehingga membuahkan rasa takut, mendapat petunjuk, melahirkan amal kebajikan, dan menghasilkan pendirian teguh. Ia bagaika buah utrujjah, aromanya harum dan rasanya manis.
2.    Orang yang beriman kepada alquran, menetapkan hukumnya, mengikuti petunjuknya, dan menetapkan akhlaknya. Tetapi tidak membaca dan menghafal alquran. Ia bagaikan buah yang manis, tetapi aromanya tidak ada.
3.    Orang jahat (munafik) yang idak memiliki iman, kecuali sekadar lisan. Agamanya hanyalah merek. Ia mambaca alquran, menghafalnya dengan baik, meyakini syariatnya, mengenal bacaanya, serta membaguskan lafal dan iramanya. Teteappi bacaanya itu tidak melampaui kerongkongannya. Apabila engkau mengujinya, engkau akan tahu bahwa hatinya busuk dan gelap, akhlaknya buruk, serta perbuatanya berbahaya. Inilah yang dicontohkan rasulullah dengan buah raihanah. Apabila anda cium, aromanya harum, tetapi apabila anda makan rasanya pahit. Hatinya cenderung kepada keburukan. Anda akan merasakanya jika anda bergaul denganya. Tidak ada pengaruh alquran terhadap dirinya Karen akejahatanya telah menutup hatinya dan nasihat orang lain tidak berguna baginya.
4.    Orang jahat (munafik) Yang tidak ada hubunganya denganang alquran. Ia tidak memiliki ilmu tentang alquran, tidak mengamalkanya, tidak membaca, tiak menghafalnya. Orang ini disunnahkan oleh rasulullah dengan buah hanzhalah yang tidak beraroma dan rasanya.

Berdasarkan hadis yang sudah dikemukana terdapat nilai-nilai kepenidikan sebagai berukut:
1.    Rasulllah mengemukakan perbandingan kualitas manusia dengan buah-buah yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dalamkehidupan manusia. Itu sekaligus merupakan alternative abagi manusia untuk menempatkan dirinya.
2.    Dalam mendidik mat, rasulullah menggunakan pendekatan rasional dan fungsional.  Dengan  pendekatan rasional, manusia di ajak berpikir dalam membedakan mana yang terbaik, mana  yang kurang baik, dan mana yang buruk. Dengan pendekatan fungsional, beliau memperkenalkan kepada manusia menfaat yang dipeoleh oleh seseorang apabila memilih sesuatu yang baik dan kerugian yang akan ditimbulkan apabila memilih sesuatu yang buruk
3.    Iman yang benar perlu dibuktikan dengan amal yang shaleh. Amal yang baik perlu dilandasi oleh iman yang benar. Keserasian keduanya dapat mengangkat derajat manusia di sisi allah. Mengambil salah satunya saja tidak dapat menjamin kualitas umat yang beriman.

Abdurrajman An-Nahlawi menjelaskan bahwa metode perumpamaan Qurani dan Nabawi memiliki tujuan psikologis edukatif, yaitu sebagai berikut:
1.    Memudahkan pemahaman mengenai suatu konsep
2.    Mempengaruhi emosi yang sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan.
3.    Membina akal untuk terbiasa berfikir secara valid dan analogis
4.    Mampu menciptakan motivasi yang menggerakkan aspek emosi dan mental manusia

Setelah memperhatikan tujuan dan dampak yang ingin diperoleh diatas, sebaiknya pendidik menggunakan metode perumpamaan ini dalam pendidikan islam. Perumpamaan yang terbaik adalah perumpamaan Qurani dan Nabawi, yaitu perumpamaan yang terdapat dala alquran dan hadist.













[1] Abdurrahman An-Nahlawi, pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan masyarakat, (Jakarta: gema insane press, 2004), hlm. 251.Metode  perumpamaan

Perumpamaan berarti pemberian contoh, yaitu menuturkan sesuatu guna menjelaskan sesuatu keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicontohkan. Lelu, menonjolkan keburukan yang tersamar[1]. Sehubung dengan ini ditemukan hadis, antara lain sebagai berikut

“abu musa al-asy’ari meriwayatkan bahwa rasulullah saw bersabda : perumpamaan seorang mukmin yang membaca alquran adalah bagaikan buah utrujjah. Aromanya harum dan rasanya enak.perumpamaan seorang mukmin yang tidak embaca alquranadalah bagaikan buah tamar (kurma). Aromanya tidak ada, tetapi rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang membaca alquran adaah bagaikan raihanah.aromanya harum tetapi rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca alquran bagaikan buah hanzalah. Aromanya tidak ada dan rasanya pahit.” (HR> al bukhari, muslim, abu dawud at tirmidzi dan an nasai)

Dalam hadis ini terdapat empat golongan manusia apabila dihubungkan dengan alquran, yaitu sebagai berikut:
1.    Orang yang hatinya dipenuhi iman. Iman mengalir ke sekujur anggotanya. Ia yakin kepada allah, beriman kepada rasul Nya. Membenarkan alquran, mengamalkan agama, menjadikan dirinya bagian dari alquran .ia membacanya pada malam dan siang hari (baik ketika berdiri. Ruku’, maupun sujud. Kapan saja ada kesempatan untuk membacanya, selalu ia memanfaatkan, sehingga hatinya tidak berpaling dan mengingat allah dan setan tidak dapat mengganggunya. Bacaanya tidak sekadar lidah. Kan tetapi, hatinya juga membaca sehingga membuahkan rasa takut, mendapat petunjuk, melahirkan amal kebajikan, dan menghasilkan pendirian teguh. Ia bagaika buah utrujjah, aromanya harum dan rasanya manis.
2.    Orang yang beriman kepada alquran, menetapkan hukumnya, mengikuti petunjuknya, dan menetapkan akhlaknya. Tetapi tidak membaca dan menghafal alquran. Ia bagaikan buah yang manis, tetapi aromanya tidak ada.
3.    Orang jahat (munafik) yang idak memiliki iman, kecuali sekadar lisan. Agamanya hanyalah merek. Ia mambaca alquran, menghafalnya dengan baik, meyakini syariatnya, mengenal bacaanya, serta membaguskan lafal dan iramanya. Teteappi bacaanya itu tidak melampaui kerongkongannya. Apabila engkau mengujinya, engkau akan tahu bahwa hatinya busuk dan gelap, akhlaknya buruk, serta perbuatanya berbahaya. Inilah yang dicontohkan rasulullah dengan buah raihanah. Apabila anda cium, aromanya harum, tetapi apabila anda makan rasanya pahit. Hatinya cenderung kepada keburukan. Anda akan merasakanya jika anda bergaul denganya. Tidak ada pengaruh alquran terhadap dirinya Karen akejahatanya telah menutup hatinya dan nasihat orang lain tidak berguna baginya.
4.    Orang jahat (munafik) Yang tidak ada hubunganya denganang alquran. Ia tidak memiliki ilmu tentang alquran, tidak mengamalkanya, tidak membaca, tiak menghafalnya. Orang ini disunnahkan oleh rasulullah dengan buah hanzhalah yang tidak beraroma dan rasanya.

Berdasarkan hadis yang sudah dikemukana terdapat nilai-nilai kepenidikan sebagai berukut:
1.    Rasulllah mengemukakan perbandingan kualitas manusia dengan buah-buah yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dalamkehidupan manusia. Itu sekaligus merupakan alternative abagi manusia untuk menempatkan dirinya.
2.    Dalam mendidik mat, rasulullah menggunakan pendekatan rasional dan fungsional.  Dengan  pendekatan rasional, manusia di ajak berpikir dalam membedakan mana yang terbaik, mana  yang kurang baik, dan mana yang buruk. Dengan pendekatan fungsional, beliau memperkenalkan kepada manusia menfaat yang dipeoleh oleh seseorang apabila memilih sesuatu yang baik dan kerugian yang akan ditimbulkan apabila memilih sesuatu yang buruk
3.    Iman yang benar perlu dibuktikan dengan amal yang shaleh. Amal yang baik perlu dilandasi oleh iman yang benar. Keserasian keduanya dapat mengangkat derajat manusia di sisi allah. Mengambil salah satunya saja tidak dapat menjamin kualitas umat yang beriman.

Abdurrajman An-Nahlawi menjelaskan bahwa metode perumpamaan Qurani dan Nabawi memiliki tujuan psikologis edukatif, yaitu sebagai berikut:
1.    Memudahkan pemahaman mengenai suatu konsep
2.   Mempengaruhi emosi yang sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan.
3.    Membina akal untuk terbiasa berfikir secara valid dan analogis
4.    Mampu menciptakan motivasi yang menggerakkan aspek emosi dan mental manusia

Setelah memperhatikan tujuan dan dampak yang ingin diperoleh diatas, sebaiknya pendidik menggunakan metode perumpamaan ini dalam pendidikan islam. Perumpamaan yang terbaik adalah perumpamaan Qurani dan Nabawi, yaitu perumpamaan yang terdapat dala alquran dan hadist.












[1] Abdurrahman An-Nahlawi, pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan masyarakat, (Jakarta: gema insane press, 2004), hlm. 251.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar