Bismillaahirrahmaanirrahiimi
Assalamualaikum Warahmatullai
Wabarkaatuh
Wahai saudaraku dan saudariku
janganlah diantara kalian saling mengejek dan dan merendahkan sesama
sebagaimana Firman Allah SWT;
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi
yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan
perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih
baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang
buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)
Allah SWT melarang kita untuk menghina orang lain yakni dengan
meremehkan dan mengolok-olok. Sebagaimana yang disebutkan Hadits shahih dari
Rasulullah SAW beliau bersabda:
“Takabbur adalah menentang kebenaran
dan meremehkan (merendahkan) manusia” (HR Muslim).
Makna yang dimaksud
adalah menghina dan meremehkan orang. Perbuatan tersebut diharamkan, sebab
barangkali orang yang tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi di hadapan
Allah SWT dan lebih dicintai Allah SWT daripada orang yang menghina. Karena
itulah Allah SWT berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang
lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka
(yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita
lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari
wanita (yang mengolok-olokkan)" Secara nash larangan tersebut ditujukan
kepada lelaki dan dilanjutkan untuk kaum wanita.
Selanjutnya Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mencela dirimu
sendiri," yakni janganlah kalian mencela orang lain. Pengumpat atau orang
yang mencela adalah orang-orang tercela dan terlaknat sebagaimana yang
disebutkan dalam firman Allah SWT berikut, "Kecelakaanlah bagi setiap
pengumpat lagi pencela” (QS. Al-Humazah: 1)
Al-hamz
adalah celaan dengan perbuatan sedangkan al-lamz adalah celaan dengan lisan.
Sebagaimana firman-Nya, "Yang banyak mencela yang kian kemari menghambur
fitnah" (QS. Al-Qalam: 11)
yakni meremehkan dan mencela
orang lain secara melampaui batas kesana kemari seraya menghambur fitnah dan
mengadomba dengan lisan. Karena itulah dalam surat ini, Allah Ta' ala berfirman,
“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri” Semakna dengan firman Allah SWT,
"Dan jangalah kalian membunuh diri kalian sendiri." (QS. An-Nisaa':
29)
Firman Allah SWT, "Dan janganlah
kamu memanggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." Yakni, jangalah
kalian saling memanggil dengan julukan yang tidak baik untuk didengar.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu
Jubairah bin adh Dhahak, ia berkata: "Firman Allah: "Dan janganlah
kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk," turun untuk kami
Bani Salamah." Abu Jubairah melanjutkan, "Ketika Rasulullah SAW
tiba di Madinah, kala itu setiap orang memiliki dua atau tiga nama. Siapa yang
memanggil, nama-nama itulah yang dipakai. Mereka berkata, "Wahai
Rasulullah, sesungguhnya dia akan marah dengan nama itu. Kemudian turunlah
ayat, "Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk”
(HR Ahmad). Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud. (Tafsir Ibnu
Katsir, Tafsir Al Qurthubi)
FIrman Allah, “Dan barangsiapa yang
tidak bertaubat,” dari kebiasaan tersebut, “Maka mereka itulah orang-orang yang
zhalim”.
(Ringkasan Tafsir Imam Al Qurthubi).
Dibawah ini adalah hadits-hadits
Rhasulullah shallahu’alaihi wasallam yang melarang menghina sesama:
1. Abi
Hurairahra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Jauhilah olehmu
berprasangka. Sebab berprasangka adalah sejelek-jelek pembicaraan. Janganlah
kamu saling mencari kejelekan orang lain, janganlah saling bermegah-megahan,
dan janganlah saling dengki mendengki. Janganlah saling mengumbar emosi, dan
janganlah saling menjauhi. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersatu dan
bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Seorang muslim
dengan muslim lainnya adalah bersaudara, yang di antara mereka dilarang saling
menganiaya, saling menghina, dan saling naeremehkan. Taqwa adalah di sini
(sambil Rasulullah memberi isyarah ke arah dada). Cukuplah seorang muslim
dikatakan melakukan kejelekan apabila dia menghina sesama muslim. Seorang
muslim dengan muslim lainnya harus saling menjaga darah, kehormatan, dan harta
kekayaannya.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
2. Sahabat
Ibnu Mas’ud ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Mencaci maki
seorang muslim adalah perbuatan fasik, sedang membunuh seorang muslim adalah
tindak kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Samurah
bin Jundub ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Janganlah kamu
saling melaknati dengan laknat Allah, dengan kemurkaan Allah, dan jangan pula
kamu saling melaknati dengan siksa neraka.” (HR. Abu Dawud dan Urmidzi, dan dia
berkata bahwa hadis ini hasan shahih).
4. Abi
Darda’ ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Apabila seseorang
melaknati sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit kemudian seluruh
pintu-pintu langit dikunci. Lalu laknat itu mengambil posisi ke kanan dan ke
kiri. Bila tidak ada tempat kosong, maka laknat itu akan kembali kepada orang
yang dilaknati bila dia pantas untuk mendapatkan laknat Tetapi kalau orang yang
dilaknati tidak pantas mendapatkan laknat, maka laknat itu akan kembali kepada
orang yang mengucapkan laknat tersebut.” (HR. Abu Dawud).
5. Abu
Bakar ra menegaskan, bahwa di dalam khutbah pada waktu haji Wada’ Rasulullah
saw telah bersabda: “Sesungguhnya darah dan kehormatanmu adalah terpelihara
sebagaimana mulianya hari Arafahmu, bulan Dzulhijahmu, dan tanah sucimu Makkah
ini. Ingatlah, belumkah aku menyampaikan khabar yang demikian?” (HR. Bukhari).
6. Abi
Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Setiap muslim
terhadap muslim lainnya harus saling memelihara darah, kehormatan, dan harta
kekayaannya.” (HR. Muslim dan tirmidzi).
7. Aisyah
ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda kepada para sahabat:” Adakah
kamu mengetahui apakah riba yang paling besar di sisi Allah?” Jawab mereka:
“Allah dan Rasul- Nya lebih mengetahui.” Lalu Rasulullah bersabda: “Riba paling
besar di sisi Allah adalah merampas kehormatan seorang muslim.” Kemudian
Rasulullah saw membaca ayat: “Dan barang orang yang menyakiti orang-orang
beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan tanpa kesalahan yang mereka
perbuat” (HR. Abu Ya’la, sedang sanadnya adalah sanad yang shahih).
8. Sa’id
bin Zaid ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Sebagian dari riba
yang paling besar adalah melecehkan kehormatan seorang muslim tanpa adanya
hak.” (HR. Abu Dawud). Wallahu’alam.
“Semoga tulisan ini bermanfaaf bagi
kita semua Aamiin”
#Oleh: Abu Samah Al-Hafidz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar