Sabtu, 19 Maret 2016

makalah hadist tentang Niat/Motivasi Beramal dan Menjauhi Riya/Syirik Kecil

A.    NIAT/MOTIVASI BERAMAL
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِى حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّا بِ يَنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رِيَاحِ بْنِ رَزَ احِ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ كَعْنِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ الْقُرَيْثِىِّ العَدَ وِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أِنَّمَااْلأَ عْمَالُ بِالنِيَاتِ وَأِ نَّمَا لِكُلِّ اْمْرِىءٍِ مَانَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَ سُوْ لِهِ فَهِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْامْرَ أَ ةٌ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ أِلَى مَا هَجْرَ أِلَيْهِ. (متفق على صحته)

1.       Terjemahan Hadits
Dari Amiril Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Ghalib al-Qurasyiy Al-Adawiy ra, ia berkata: Saya mendengar rasulullah saw. Bersabda : “Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseorang tergantung dengan apa yang diniatkannya. Karena itu, siapa saja yang hijrahnya (dari Makkah ke Madianah) karena Allah dan Rasul-Nya (melakukan hijrah demi mengagungkan dan melaksanakna perintah Allah dan utusan-Nya), maka hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya (diterima dan diridhai Allah). Tetapi siapa saja yang melakukan hijrah demi kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuannya (tidak diterima oleh Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)[1]

2.       Penjelasan hadits
Rasulullah mengeluarkan hadits di atas untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah, yang diikuti  oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang laki-laki yang turut juga hijrah. Akan tetapi niatnya  bukan untuk kepentingan  perjuangan Islam, melainkan menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais.Wanita itu rupanya sudah bertekad akan turut hijrah, sedangkan pada mulanya laki-laki itu memilih tinggal  di Mekah. Ummu qais hanya bersedia di kawini di tempat tujuan hijrahnya Rasulullah Saw. Yakni Madinah, sehingga laki-laki itu pun ikut hijrah ke Madinah.

Orang yang berhijrah dengan niat ingin mendapatkan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Sebaliknya kalau seseorang hijrah karena ingin mendapat rida Allah SWT. maka ia akan mendapatkannya, bahkan keuntungan duniapun akan diraihnya.

Sebenarnya, hijrah yang  dimaksud pada hadits di atas adalah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena saat itu penduduk Mekah tidak merespon da’wah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakai Nabi dan umat Islam. Akan tetapi, setelah Islam kuat, hijrah di atas lebih tepat diartikan berpindah dari kemungkaran atau kebatilan kepada hak. Namun demikian. niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala atau tidaknya setiap hijrah, apapun bentuknya.

Para ulama telah sepakat bahwa niat sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila dilakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.

                Niat dalam arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara' karena memenuhi berbagai syarat dan rukunnya, belum  tentu diterima dan berpahala kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin dikatakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal harus betul-betul ikhlas, hanya mengharapkan rida Allah saja.

 Sebagaimana firman Allah SWT.:
                                                                                                                   
Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.(Q.S. Al-Bayyinah: 5)[2]

Adapun yang dimaksud ikhlas menurut Sayid Sabiq dalam buku Islamuna adalah sebagai berikut:” Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan keridhaan-Nya. Bukan karena mengharapkan harta, pujian, gelar (sebuton), kemasyhuran, dan kemajuan. Amalnya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan dari akhlak yang tercela sehingga ia menemukan kesukaan Allah. "

Niat atau motivasi itu bertempat di dalam hati. Siapapun tidak akan mengetahui motivasi apa yang ada dalam hati seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu, kecuali dirinya dan Allah saja. Dengan demikian, Allah SWT. mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang memiliki motivasi balk ketika ia beribadah atau sebaliknya.
Allah SWT. berfirman:

Artinya: Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui".  (Ali Imron : 29)[3]

Dengan Demikian, seseorang yang melakukan suatu amal dengan baik menurut pandangan manusia, tetapi motivasinya salah atau tidak ikhlas, hal itu akan sia-sia karena Allah tidak akan melihat bentuk zahirnya, tetapi melihat niat yang ada dalam hatinya. Rasulullah Saw. Bersabda :





Artinya: Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra, ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi dia memandang hati kalian” (HR.Muslim)[4]

Dengan demikian orang yang tidak Ikhlas dalam melakukan perintah Allah SWT, misalnya untuk mendapatkan keuntungan dunia semata, Allah akan memberikan balasannya di dunia, tetapi Dia tidak akan memberikan apa-apa kelak di akhirat, sebagai firman-Nya:

Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Huud: 15-16)[5]

Jadi, tidaklah heran seseorang kurang ketika hidup di dunia sudah melakukan amal kebaikan, namun di akhirat tidak menemukan apa-apa karena perbuatan tersebut tidaklah  secara Ikhlas sehingga amalnya bagaikan debu yang bertebaran, Bagaimanapun Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati seseorang, dan tidak akan menerima begitu saja amal setiap orang sebelum melihat motivasi sebenarnya.
Alah SWT berfirman:



Artinya :   Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Qs. AL-Furqan: 23)[6]

B.   Menjauhi Riya/Syirik Kecil


Terjemahan hadits
Dari Mahmud bin labid dia berkata : Rasulullah bersabda: sesungguhnya perkara yang akau khawatirkan menimpa kepadamu ialah  syirik kecil dan riya’. (Riwayat Ahmad dengan sanad hasan)[7]

2.      Penjelasan Singkat
Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT, melainkan  bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.

Dan dalam kamus umum bahasa Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak. Sebagaimana telah disinggung dalam bahasa, niat orang yang beribadah dengan riya tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Hal itu karena dalam ibadahnya tidak lagi murni karena Allah melainkan karena makhluk-Nya. Tak heran kalau riya sebagaimana bunyi hadis di atas dikategorikan sebagai syirik kecil. Dengan kata lain, hakikat amal mereka adalah penipuan belaka, dan itulah di antara perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang munafik. Allah berfirman:


Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. An-Nisa: 142)[8]

Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda orang riya ada tiga:
1.      Malas beramal kalau sendirian.
2.      Semangat beramal kalau dilihat banyak manusia.
3.      Amalnya bertambah banyak kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela orang lain.

Ciri-ciri orang riya sebagaimana disebutkan Imam Ali di atas, hendaknya dijadikan sebagai rambu-rambu untuk berusaha maksimal membentengi segala amalan kita dari segala bentuk riya. Syaqiq bin Ibrahim sebagaimana dikutip Abu Laits Samarqandi mengemukakan tiga perkara yang dapat dijadikan benteng amal, sebaga berikut:
1.      Hendaknya mengakui bahwa amal ibadahnya merupakan pertolongan Allah swt. agar penyakit ujub dalam hatinya hilang;
  1. Semata-mata hanya mencari ridha Allah swt. agar hawa nafsunya teratur
  2. Senantiasa hanya mengharap ridha Allah swt. agar tidak timbul rasa tamak atau riya.
Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menerangkan kerugian bagi  orang-orang yang suka riya dalam beramal. Bahkan, dengan tegas dinyatakan bahwa orang yang riya akan celaka walaupun dia rajin beribadah. Allah SWT. berfirman:


Artinya : Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Qs. Al-Maun: 4-7)[9]
Oleh sebab itu, besarnya ancaman dan bahaya bagi orang yang melakukan amalan karena riya, tidak boleh menjadi alasan dan membuat kita enggan melakukan amal ibadah. Justru hendaknya ancaman-ancaman seperti itu dijadikan sebagai motivasi untuk semakin berusaha membersihkan segala amalan kita dari segala bentuk riya, sekecil apapun bentuknya.
Sehubungan dengan hal ini, Abu Bakar al-Wasith  berpendapat bahwa menghilangkan riya dalam beramal sangat penting. Namun, jika belum dapat membersihkan diri dari unsur-unsur riya dalam amalan, kita tidak boleh berputus asa dan tidk boleh menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan amal tersebut karena takut riya. Oleh sebab itu, tetaplah beramal seraya memohon ampun kepada Allah swt. atas kemungkinan riya yang ada dalam amalan yang kita lakukan, dengan harapan Allah swt. memberi taufik dalam melakukan amal-amal dengan ikhlas.



لْمُؤْمِنِيْنَ أَبِى حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّا بِ يَنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رِيَاحِ بْنِ رَزَ احِ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ كَعْنِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ الْقُرَيْثِىِّ العَدَ وِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أِنَّمَااْلأَ عْمَالُ بِالنِيَاتِ وَأِ نَّمَا لِكُلِّ اْمْرِىءٍِ مَانَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَ سُوْ لِهِ فَهِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْامْرَ أَ ةٌ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ أِلَى مَا هَجْرَ أِلَيْهِ. (متفق على صحته)

1.       Terjemahan Hadits
Dari Amiril Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Ghalib al-Qurasyiy Al-Adawiy ra, ia berkata: Saya mendengar rasulullah saw. Bersabda : “Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseorang tergantung dengan apa yang diniatkannya. Karena itu, siapa saja yang hijrahnya (dari Makkah ke Madianah) karena Allah dan Rasul-Nya (melakukan hijrah demi mengagungkan dan melaksanakna perintah Allah dan utusan-Nya), maka hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya (diterima dan diridhai Allah). Tetapi siapa saja yang melakukan hijrah demi kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuannya (tidak diterima oleh Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)[1]

2.       Penjelasan hadits
Rasulullah mengeluarkan hadits di atas untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah, yang diikuti  oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang laki-laki yang turut juga hijrah. Akan tetapi niatnya  bukan untuk kepentingan  perjuangan Islam, melainkan menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais.Wanita itu rupanya sudah bertekad akan turut hijrah, sedangkan pada mulanya laki-laki itu memilih tinggal  di Mekah. Ummu qais hanya bersedia di kawini di tempat tujuan hijrahnya Rasulullah Saw. Yakni Madinah, sehingga laki-laki itu pun ikut hijrah ke Madinah.

Orang yang berhijrah dengan niat ingin mendapatkan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Sebaliknya kalau seseorang hijrah karena ingin mendapat rida Allah SWT. maka ia akan mendapatkannya, bahkan keuntungan duniapun akan diraihnya.

Sebenarnya, hijrah yang  dimaksud pada hadits di atas adalah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena saat itu penduduk Mekah tidak merespon da’wah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakai Nabi dan umat Islam. Akan tetapi, setelah Islam kuat, hijrah di atas lebih tepat diartikan berpindah dari kemungkaran atau kebatilan kepada hak. Namun demikian. niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala atau tidaknya setiap hijrah, apapun bentuknya.

Para ulama telah sepakat bahwa niat sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila dilakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.

                Niat dalam arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara' karena memenuhi berbagai syarat dan rukunnya, belum  tentu diterima dan berpahala kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin dikatakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal harus betul-betul ikhlas, hanya mengharapkan rida Allah saja.

 Sebagaimana firman Allah SWT.:
                                                                                                                    

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.(Q.S. Al-Bayyinah: 5)[2]

Adapun yang dimaksud ikhlas menurut Sayid Sabiq dalam buku Islamuna adalah sebagai berikut:” Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan keridhaan-Nya. Bukan karena mengharapkan harta, pujian, gelar (sebuton), kemasyhuran, dan kemajuan. Amalnya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan dari akhlak yang tercela sehingga ia menemukan kesukaan Allah. "

Niat atau motivasi itu bertempat di dalam hati. Siapapun tidak akan mengetahui motivasi apa yang ada dalam hati seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu, kecuali dirinya dan Allah saja. Dengan demikian, Allah SWT. mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang memiliki motivasi balk ketika ia beribadah atau sebaliknya.
Allah SWT. berfirman:
Artinya: Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui".  (Ali Imron : 29)[3]

Dengan Demikian, seseorang yang melakukan suatu amal dengan baik menurut pandangan manusia, tetapi motivasinya salah atau tidak ikhlas, hal itu akan sia-sia karena Allah tidak akan melihat bentuk zahirnya, tetapi melihat niat yang ada dalam hatinya. Rasulullah Saw. Bersabda :


Artinya: Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra, ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi dia memandang hati kalian” (HR.Muslim)[4]

Dengan demikian orang yang tidak Ikhlas dalam melakukan perintah Allah SWT, misalnya untuk mendapatkan keuntungan dunia semata, Allah akan memberikan balasannya di dunia, tetapi Dia tidak akan memberikan apa-apa kelak di akhirat, sebagai firman-Nya:


Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Huud: 15-16)[5]

Jadi, tidaklah heran seseorang kurang ketika hidup di dunia sudah melakukan amal kebaikan, namun di akhirat tidak menemukan apa-apa karena perbuatan tersebut tidaklah  secara Ikhlas sehingga amalnya bagaikan debu yang bertebaran, Bagaimanapun Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati seseorang, dan tidak akan menerima begitu saja amal setiap orang sebelum melihat motivasi sebenarnya.
Alah SWT berfirman:



Artinya :   Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Qs. AL-Furqan: 23)[6]

B.   Menjauhi Riya/Syirik Kecil


Terjemahan hadits
Dari Mahmud bin labid dia berkata : Rasulullah bersabda: sesungguhnya perkara yang akau khawatirkan menimpa kepadamu ialah  syirik kecil dan riya’. (Riwayat Ahmad dengan sanad hasan)[7]

2.      Penjelasan Singkat
Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT, melainkan  bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.

Dan dalam kamus umum bahasa Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak. Sebagaimana telah disinggung dalam bahasa, niat orang yang beribadah dengan riya tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Hal itu karena dalam ibadahnya tidak lagi murni karena Allah melainkan karena makhluk-Nya. Tak heran kalau riya sebagaimana bunyi hadis di atas dikategorikan sebagai syirik kecil. Dengan kata lain, hakikat amal mereka adalah penipuan belaka, dan itulah di antara perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang munafik. Allah berfirman:






Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. An-Nisa: 142)[8]

Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda orang riya ada tiga:
1.      Malas beramal kalau sendirian.
2.      Semangat beramal kalau dilihat banyak manusia.
3.      Amalnya bertambah banyak kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela orang lain.

Ciri-ciri orang riya sebagaimana disebutkan Imam Ali di atas, hendaknya dijadikan sebagai rambu-rambu untuk berusaha maksimal membentengi segala amalan kita dari segala bentuk riya. Syaqiq bin Ibrahim sebagaimana dikutip Abu Laits Samarqandi mengemukakan tiga perkara yang dapat dijadikan benteng amal, sebaga berikut:
1.      Hendaknya mengakui bahwa amal ibadahnya merupakan pertolongan Allah swt. agar penyakit ujub dalam hatinya hilang;
  1. Semata-mata hanya mencari ridha Allah swt. agar hawa nafsunya teratur
  2. Senantiasa hanya mengharap ridha Allah swt. agar tidak timbul rasa tamak atau riya.
Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menerangkan kerugian bagi  orang-orang yang suka riya dalam beramal. Bahkan, dengan tegas dinyatakan bahwa orang yang riya akan celaka walaupun dia rajin beribadah. Allah SWT. berfirman:


Artinya : Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Qs. Al-Maun: 4-7)[9]
Oleh sebab itu, besarnya ancaman dan bahaya bagi orang yang melakukan amalan karena riya, tidak boleh menjadi alasan dan membuat kita enggan melakukan amal ibadah. Justru hendaknya ancaman-ancaman seperti itu dijadikan sebagai motivasi untuk semakin berusaha membersihkan segala amalan kita dari segala bentuk riya, sekecil apapun bentuknya.
Sehubungan dengan hal ini, Abu Bakar al-Wasith  berpendapat bahwa menghilangkan riya dalam beramal sangat penting. Namun, jika belum dapat membersihkan diri dari unsur-unsur riya dalam amalan, kita tidak boleh berputus asa dan tidk boleh menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan amal tersebut karena takut riya. Oleh sebab itu, tetaplah beramal seraya memohon ampun kepada Allah swt. atas kemungkinan riya yang ada dalam amalan yang kita lakukan, dengan harapan Allah swt. memberi taufik dalam melakukan amal-amal dengan ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar