A.
NIAT/MOTIVASI BERAMAL
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِى
حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّا بِ يَنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ
رِيَاحِ بْنِ رَزَ احِ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ كَعْنِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ
غَالِبِ الْقُرَيْثِىِّ العَدَ وِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ
رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أِنَّمَااْلأَ عْمَالُ
بِالنِيَاتِ وَأِ نَّمَا لِكُلِّ اْمْرِىءٍِ مَانَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ
أِلَى اللهِ وَرَ سُوْ لِهِ فَهِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ
كَانَتْ هِجْرَ تُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْامْرَ أَ ةٌ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ
تُهُ أِلَى مَا هَجْرَ أِلَيْهِ. (متفق على صحته)
1. Terjemahan
Hadits
Dari Amiril Mukminin Abu Hafsh Umar
bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin
Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Ghalib al-Qurasyiy Al-Adawiy ra, ia berkata: Saya
mendengar rasulullah saw. Bersabda : “Setiap amal disertai dengan niat. Setiap
amal seseorang tergantung dengan apa yang diniatkannya. Karena itu, siapa saja
yang hijrahnya (dari Makkah ke Madianah) karena Allah dan Rasul-Nya (melakukan
hijrah demi mengagungkan dan melaksanakna perintah Allah dan utusan-Nya), maka
hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya (diterima dan diridhai Allah).
Tetapi siapa saja yang melakukan hijrah demi kepentingan dunia yang akan
diperolehnya, atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya
sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuannya (tidak diterima oleh Allah).”
(HR. Bukhari dan Muslim)[1]
2. Penjelasan
hadits
Rasulullah
mengeluarkan hadits di atas untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat
berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah,
yang diikuti oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang
laki-laki yang turut juga hijrah. Akan tetapi niatnya bukan untuk
kepentingan perjuangan Islam, melainkan menikahi seorang wanita yang
bernama Ummu Qais.Wanita itu rupanya sudah bertekad akan turut hijrah,
sedangkan pada mulanya laki-laki itu memilih tinggal di Mekah. Ummu qais
hanya bersedia di kawini di tempat tujuan hijrahnya Rasulullah Saw. Yakni
Madinah, sehingga laki-laki itu pun ikut hijrah ke Madinah.
Orang yang berhijrah dengan niat
ingin mendapatkan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia
tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Sebaliknya kalau seseorang hijrah
karena ingin mendapat rida Allah SWT. maka ia akan mendapatkannya, bahkan
keuntungan duniapun akan diraihnya.
Sebenarnya, hijrah yang
dimaksud pada hadits di atas adalah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena saat
itu penduduk Mekah tidak merespon da’wah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakai
Nabi dan umat Islam. Akan tetapi, setelah Islam kuat, hijrah di atas lebih
tepat diartikan berpindah dari kemungkaran atau kebatilan kepada hak. Namun
demikian. niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala atau
tidaknya setiap hijrah, apapun bentuknya.
Para ulama telah sepakat bahwa niat
sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama
dalam setiap melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat,
zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila dilakukan tanpa niat atau dengan niat
yang salah.
Niat dalam
arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh
Allah SWT. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara' karena
memenuhi berbagai syarat dan rukunnya, belum tentu diterima dan berpahala
kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin
dikatakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal
harus betul-betul ikhlas, hanya mengharapkan rida Allah saja.
Sebagaimana firman Allah SWT.:
Artinya : “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”(Q.S.
Al-Bayyinah: 5)[2]
Adapun yang dimaksud ikhlas menurut
Sayid Sabiq dalam buku Islamuna adalah sebagai berikut:” Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan
perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan
keridhaan-Nya. Bukan karena mengharapkan harta, pujian, gelar (sebuton),
kemasyhuran, dan kemajuan. Amalnya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan
dari akhlak yang tercela sehingga ia menemukan kesukaan Allah. "
Niat atau motivasi itu
bertempat di dalam hati. Siapapun tidak akan mengetahui motivasi apa yang ada
dalam hati seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu, kecuali dirinya dan Allah
saja. Dengan demikian, Allah SWT. mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya
yang memiliki motivasi balk ketika ia beribadah atau sebaliknya.
Allah SWT. berfirman:
Artinya: Katakanlah: "Jika kamu
menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah
Mengetahui". (Ali Imron : 29)[3]
Dengan Demikian, seseorang yang
melakukan suatu amal dengan baik menurut pandangan manusia, tetapi motivasinya
salah atau tidak ikhlas, hal itu akan sia-sia karena Allah tidak akan melihat
bentuk zahirnya, tetapi melihat niat yang ada dalam hatinya. Rasulullah Saw.
Bersabda :
Artinya: Dari Abu Hurairah
Abdurrahman bin Shakhr ra, ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda : “Sesungguhnya
Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian,
tetapi dia memandang hati kalian” (HR.Muslim)[4]
Dengan demikian orang yang tidak
Ikhlas dalam melakukan perintah Allah SWT, misalnya untuk mendapatkan
keuntungan dunia semata, Allah akan memberikan balasannya di dunia, tetapi Dia
tidak akan memberikan apa-apa kelak di akhirat, sebagai firman-Nya:
Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia
dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka
di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang
Telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Huud: 15-16)[5]
Jadi, tidaklah heran seseorang kurang
ketika hidup di dunia sudah melakukan amal kebaikan, namun di akhirat tidak
menemukan apa-apa karena perbuatan tersebut tidaklah secara Ikhlas
sehingga amalnya bagaikan debu yang bertebaran, Bagaimanapun Allah mengetahui
segala sesuatu yang ada dalam hati seseorang, dan tidak akan menerima begitu
saja amal setiap orang sebelum melihat motivasi sebenarnya.
Alah SWT berfirman:
Artinya : Dan kami hadapi segala amal yang
mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.
(Qs. AL-Furqan: 23)[6]
B.
Menjauhi Riya/Syirik Kecil
Terjemahan hadits
Dari Mahmud
bin labid dia berkata : Rasulullah bersabda: sesungguhnya perkara yang akau
khawatirkan menimpa kepadamu ialah syirik kecil dan riya’. (Riwayat Ahmad
dengan sanad hasan)[7]
2.
Penjelasan Singkat
Riya artinya usaha dalam
melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan
perintah Allah SWT, melainkan bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk
kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.
Dan dalam kamus umum bahasa
Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak. Sebagaimana telah disinggung
dalam bahasa, niat orang yang beribadah dengan riya tidak akan mendapat pahala
dari Allah SWT. Hal itu karena dalam ibadahnya tidak lagi murni karena Allah
melainkan karena makhluk-Nya. Tak heran kalau riya
sebagaimana bunyi hadis di atas dikategorikan sebagai syirik kecil.
Dengan kata lain, hakikat amal mereka adalah penipuan
belaka, dan itulah di antara perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang
munafik. Allah berfirman:
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut
Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. An-Nisa: 142)[8]
Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda
orang riya ada tiga:
1. Malas beramal kalau sendirian.
2. Semangat beramal kalau
dilihat banyak manusia.
3. Amalnya bertambah banyak
kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela orang lain.
Ciri-ciri orang riya sebagaimana
disebutkan Imam Ali di atas, hendaknya dijadikan sebagai rambu-rambu untuk
berusaha maksimal membentengi segala amalan kita dari segala bentuk riya.
Syaqiq bin Ibrahim sebagaimana dikutip Abu Laits Samarqandi mengemukakan tiga
perkara yang dapat dijadikan benteng amal, sebaga berikut:
1.
Hendaknya mengakui bahwa amal
ibadahnya merupakan pertolongan Allah swt. agar penyakit ujub dalam
hatinya hilang;
- Semata-mata hanya mencari ridha Allah swt. agar
hawa nafsunya teratur
- Senantiasa hanya mengharap ridha Allah swt. agar
tidak timbul rasa tamak atau riya.
Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menerangkan kerugian bagi
orang-orang yang suka riya dalam beramal. Bahkan, dengan tegas dinyatakan bahwa
orang yang riya akan celaka walaupun dia rajin beribadah.
Allah SWT. berfirman:
Artinya : “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang
lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong
dengan) barang berguna.” (Qs. Al-Maun: 4-7)[9]
Oleh sebab
itu, besarnya ancaman dan bahaya bagi orang yang melakukan amalan karena riya,
tidak boleh menjadi alasan dan membuat kita enggan melakukan amal ibadah.
Justru hendaknya ancaman-ancaman seperti itu dijadikan sebagai motivasi untuk
semakin berusaha membersihkan segala amalan kita dari segala bentuk riya,
sekecil apapun bentuknya.
Sehubungan dengan hal ini, Abu Bakar
al-Wasith berpendapat bahwa menghilangkan riya dalam beramal sangat
penting. Namun, jika belum dapat membersihkan diri dari unsur-unsur riya dalam
amalan, kita tidak boleh berputus asa dan tidk boleh menjadi penghalang bagi
kita untuk melakukan amal tersebut karena takut riya. Oleh sebab itu, tetaplah
beramal seraya memohon ampun kepada Allah swt. atas kemungkinan riya yang ada
dalam amalan yang kita lakukan, dengan harapan Allah swt. memberi taufik dalam
melakukan amal-amal dengan ikhlas.
لْمُؤْمِنِيْنَ أَبِى
حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّا بِ يَنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ
رِيَاحِ بْنِ رَزَ احِ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ كَعْنِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ
غَالِبِ الْقُرَيْثِىِّ العَدَ وِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ
رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أِنَّمَااْلأَ عْمَالُ
بِالنِيَاتِ وَأِ نَّمَا لِكُلِّ اْمْرِىءٍِ مَانَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ
أِلَى اللهِ وَرَ سُوْ لِهِ فَهِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ
كَانَتْ هِجْرَ تُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْامْرَ أَ ةٌ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ
تُهُ أِلَى مَا هَجْرَ أِلَيْهِ. (متفق على صحته)
1. Terjemahan
Hadits
Dari Amiril Mukminin Abu Hafsh Umar
bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin
Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Ghalib al-Qurasyiy Al-Adawiy ra, ia berkata: Saya
mendengar rasulullah saw. Bersabda : “Setiap amal disertai dengan niat. Setiap
amal seseorang tergantung dengan apa yang diniatkannya. Karena itu, siapa saja
yang hijrahnya (dari Makkah ke Madianah) karena Allah dan Rasul-Nya (melakukan
hijrah demi mengagungkan dan melaksanakna perintah Allah dan utusan-Nya), maka
hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya (diterima dan diridhai Allah).
Tetapi siapa saja yang melakukan hijrah demi kepentingan dunia yang akan
diperolehnya, atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya
sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuannya (tidak diterima oleh Allah).”
(HR. Bukhari dan Muslim)[1]
2. Penjelasan
hadits
Rasulullah
mengeluarkan hadits di atas untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat
berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah,
yang diikuti oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang
laki-laki yang turut juga hijrah. Akan tetapi niatnya bukan untuk
kepentingan perjuangan Islam, melainkan menikahi seorang wanita yang
bernama Ummu Qais.Wanita itu rupanya sudah bertekad akan turut hijrah,
sedangkan pada mulanya laki-laki itu memilih tinggal di Mekah. Ummu qais
hanya bersedia di kawini di tempat tujuan hijrahnya Rasulullah Saw. Yakni
Madinah, sehingga laki-laki itu pun ikut hijrah ke Madinah.
Orang yang berhijrah dengan niat
ingin mendapatkan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia
tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Sebaliknya kalau seseorang hijrah
karena ingin mendapat rida Allah SWT. maka ia akan mendapatkannya, bahkan
keuntungan duniapun akan diraihnya.
Sebenarnya, hijrah yang
dimaksud pada hadits di atas adalah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena saat
itu penduduk Mekah tidak merespon da’wah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakai
Nabi dan umat Islam. Akan tetapi, setelah Islam kuat, hijrah di atas lebih
tepat diartikan berpindah dari kemungkaran atau kebatilan kepada hak. Namun
demikian. niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala atau
tidaknya setiap hijrah, apapun bentuknya.
Para ulama telah sepakat bahwa niat
sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama
dalam setiap melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat,
zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila dilakukan tanpa niat atau dengan niat
yang salah.
Niat dalam
arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh
Allah SWT. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara' karena
memenuhi berbagai syarat dan rukunnya, belum tentu diterima dan berpahala
kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin
dikatakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal
harus betul-betul ikhlas, hanya mengharapkan rida Allah saja.
Sebagaimana firman Allah SWT.:
Artinya : “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”(Q.S.
Al-Bayyinah: 5)[2]
Adapun yang dimaksud ikhlas menurut
Sayid Sabiq dalam buku Islamuna adalah sebagai berikut:” Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan
perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan
keridhaan-Nya. Bukan karena mengharapkan harta, pujian, gelar (sebuton),
kemasyhuran, dan kemajuan. Amalnya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan
dari akhlak yang tercela sehingga ia menemukan kesukaan Allah. "
Niat atau motivasi itu
bertempat di dalam hati. Siapapun tidak akan mengetahui motivasi apa yang ada
dalam hati seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu, kecuali dirinya dan Allah
saja. Dengan demikian, Allah SWT. mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya
yang memiliki motivasi balk ketika ia beribadah atau sebaliknya.
Allah SWT. berfirman:
Artinya: Katakanlah: "Jika kamu
menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah
Mengetahui". (Ali Imron : 29)[3]
Dengan Demikian, seseorang yang
melakukan suatu amal dengan baik menurut pandangan manusia, tetapi motivasinya
salah atau tidak ikhlas, hal itu akan sia-sia karena Allah tidak akan melihat
bentuk zahirnya, tetapi melihat niat yang ada dalam hatinya. Rasulullah Saw.
Bersabda :
Artinya: Dari Abu Hurairah
Abdurrahman bin Shakhr ra, ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda : “Sesungguhnya
Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian,
tetapi dia memandang hati kalian” (HR.Muslim)[4]
Dengan demikian orang yang tidak
Ikhlas dalam melakukan perintah Allah SWT, misalnya untuk mendapatkan
keuntungan dunia semata, Allah akan memberikan balasannya di dunia, tetapi Dia
tidak akan memberikan apa-apa kelak di akhirat, sebagai firman-Nya:
Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia
dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka
di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang
Telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Huud: 15-16)[5]
Jadi, tidaklah heran seseorang kurang
ketika hidup di dunia sudah melakukan amal kebaikan, namun di akhirat tidak
menemukan apa-apa karena perbuatan tersebut tidaklah secara Ikhlas
sehingga amalnya bagaikan debu yang bertebaran, Bagaimanapun Allah mengetahui
segala sesuatu yang ada dalam hati seseorang, dan tidak akan menerima begitu
saja amal setiap orang sebelum melihat motivasi sebenarnya.
Alah SWT berfirman:
Artinya : Dan kami hadapi segala amal yang
mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.
(Qs. AL-Furqan: 23)[6]
B.
Menjauhi Riya/Syirik Kecil
Terjemahan hadits
Dari Mahmud
bin labid dia berkata : Rasulullah bersabda: sesungguhnya perkara yang akau
khawatirkan menimpa kepadamu ialah syirik kecil dan riya’. (Riwayat Ahmad
dengan sanad hasan)[7]
2.
Penjelasan Singkat
Riya artinya usaha dalam
melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan
perintah Allah SWT, melainkan bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk
kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.
Dan dalam kamus umum bahasa
Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak. Sebagaimana telah disinggung
dalam bahasa, niat orang yang beribadah dengan riya tidak akan mendapat pahala
dari Allah SWT. Hal itu karena dalam ibadahnya tidak lagi murni karena Allah
melainkan karena makhluk-Nya. Tak heran kalau riya
sebagaimana bunyi hadis di atas dikategorikan sebagai syirik kecil.
Dengan kata lain, hakikat amal mereka adalah penipuan
belaka, dan itulah di antara perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang
munafik. Allah berfirman:
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut
Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. An-Nisa: 142)[8]
Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda
orang riya ada tiga:
1. Malas beramal kalau sendirian.
2. Semangat beramal kalau
dilihat banyak manusia.
3. Amalnya bertambah banyak
kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela orang lain.
Ciri-ciri orang riya sebagaimana
disebutkan Imam Ali di atas, hendaknya dijadikan sebagai rambu-rambu untuk
berusaha maksimal membentengi segala amalan kita dari segala bentuk riya.
Syaqiq bin Ibrahim sebagaimana dikutip Abu Laits Samarqandi mengemukakan tiga
perkara yang dapat dijadikan benteng amal, sebaga berikut:
1.
Hendaknya mengakui bahwa amal
ibadahnya merupakan pertolongan Allah swt. agar penyakit ujub dalam
hatinya hilang;
- Semata-mata hanya mencari ridha Allah swt. agar
hawa nafsunya teratur
- Senantiasa hanya mengharap ridha Allah swt. agar
tidak timbul rasa tamak atau riya.
Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menerangkan kerugian bagi
orang-orang yang suka riya dalam beramal. Bahkan, dengan tegas dinyatakan bahwa
orang yang riya akan celaka walaupun dia rajin beribadah.
Allah SWT. berfirman:
Artinya : “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang
lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong
dengan) barang berguna.” (Qs. Al-Maun: 4-7)[9]
Oleh sebab
itu, besarnya ancaman dan bahaya bagi orang yang melakukan amalan karena riya,
tidak boleh menjadi alasan dan membuat kita enggan melakukan amal ibadah.
Justru hendaknya ancaman-ancaman seperti itu dijadikan sebagai motivasi untuk
semakin berusaha membersihkan segala amalan kita dari segala bentuk riya,
sekecil apapun bentuknya.
Sehubungan dengan hal ini, Abu Bakar
al-Wasith berpendapat bahwa menghilangkan riya dalam beramal sangat
penting. Namun, jika belum dapat membersihkan diri dari unsur-unsur riya dalam
amalan, kita tidak boleh berputus asa dan tidk boleh menjadi penghalang bagi
kita untuk melakukan amal tersebut karena takut riya. Oleh sebab itu, tetaplah
beramal seraya memohon ampun kepada Allah swt. atas kemungkinan riya yang ada
dalam amalan yang kita lakukan, dengan harapan Allah swt. memberi taufik dalam
melakukan amal-amal dengan ikhlas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar